Manakib Syekh Muhammad Syarwani Abdan

Syekh Muhammad Syarwani Abdan Bangil

Syekh Muhammad Syarwani Abdan Al-Banjari atau yang sering dikenal dengan Tuan Guru Bangil dilahirkan Kampung Melayu Ilir, Martapura, Kalimantan Selatan tahun 1915/1334H dan meninggal di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, pada tanggal 11 September 1989 di usia 74 tahun. Guru Bangil adalah keturunan ke-8 dari Datuk Kalampayan atau Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dengan istri ke-dua yakni Tuan Bidur. Silsilah beliau adalah H. Muhammad Syarwani Abdan bin H. Muhammad Abdan bin H. Muhammad Yusuf bin H. Muhammad Shalih Siam bin H. Ahmad bin H. Muhammad Thahir bin H. Syamsuddin bin Sa’idah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Leluhur Syekh Muhammad Syarwani Abdan yang bernama Sa’idah adalah putri dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan Tuan Bidur. Sa’idah memiliki tiga orang saudara, yakni ‘Alimul ‘Allamah Qadhi H. Abu Su’ud, ‘Alimul ‘Allamah Qadhi H. Abu Na’im, dan ‘Alimul ‘Allamah Khalifah H. Syihabuddin.

H. Muhammad Abdan yang menikah dengan Hj. Mulik mempunyai 8 anak termasuk Guru Bangil dan saudara kandungnya yaitu H. Ali, Hj. Intan, Hj. Muntiara, Abd. Razak, Husaini, Acil, dan H. Ahmad Ayub. Selain itu, Guru Bangil juga mempunyai saudara seayah yakni Abd. Manan dan H.M. Hasan.

Pendidikan
Sejak kecil Guru Bangil sudah dikenal sebagai anak yang memiliki keinginan kuat untuk belajar dan menuntut ilmu, terutama ilmu agama. Beliau dikenal sebagai anak yang rajin dan tekun belajar, sehingga sangat disayangi dan disenangi oleh guru-guru beliau. Apalagi beliau berasal dari lingkungan keluarga yang agamis. Selain dididik dalam lingkungan dan keluarga, Guru Bangil juga mendapat didikan dari menuntut ilmu agama di Pesantren Darussalam Martapura dan dari sejumlah ulama besar yang hidup pada waktu itu diantaranya ‘Alimul ‘Allamah Tuan Guru H. Muhammad Kasyful Anwar bin H. Ismail, ‘Alimul Fadhil Qadhi H.M. Thaha, dan ‘Alimul Fadhil H. Isma’il Khatib Dalam Pagar, Martapura. Selain guru-guru tersebut, beliau juga pernah belajar ilmu agama dengan Guru Mukhtar Khatib, yang menurut cerita, beliau belajar sambil mengayuh jukung (perahu).

Pada usia yang sangat muda, Guru Bangil pergi meninggalkan Martapura menuju Bangil, Jawa Timur mengikuti keluarganya yang sudah dulu bermukim di sana. Di Bangil, Syekh Muhammad Syarwani muda melanjutkan pencarian ilmu kepada beberapa ulama diantaranya KH. Muhdhar di Gondang Bangil, KH. Abu Hasan di daerah Wetan Alun Bangil, KH. Bajuri Kota Bangil, dan KH. Ahmad Jufri di Pasuruan.

Suatu ketika, saat Guru Bangil masih kecil, keluarganya bertamu ke rumah seorang Habib bermarga Al Haddad di Kota Bangil. Masing-masing dari mereka diberi air putih. Tentu saja ini bukan air putih biasa. Di antara saudara beliau, ada yang minum hanya setengah gelas, hilang dahaganya. Ada yang satu gelas baru hilang hausnya. Namun ketika disuguhkan kepada Guru Bangil dan beliau meminumnya, satu gelas tidaklah cukup. Ditambah lagi, masih tidak cukup. Oleh sang Habib, kejadian tersebut merupakan isyarat bahwa Guru Bangil adalah anak yang haus akan ilmu pengetahuan.

Menuntut Ilmu ke Tanah Suci
Di kemudian hari, isyarat itu terbukti benar. Guru Bangil yang haus akan ilmu pengetahuan agama, bahkan sampai menuntut ilmu ke Tanah Suci. Saat usianya 16 tahun, Guru Bangil dan sepupunya yang bernama Syekh Anang Sya’rani Arif, dibawa oleh pamannya yakni Syekh Muhammad Kasyful Anwar pergi untuk menuntut ilmu ke Tanah Suci Mekkah.

Selama berada di Tanah Suci kedua pemuda ini dikenal sangat tekun mengisi waktu dengan menuntut ilmu-ilmu agama. Keduanya mendatangi majelis ilmu para ulama besar Mekkah pada waktu itu. Di antara guru-gurunya yaitu Sayyid Muhammad Amin Kutby, Sayyid Alwi Al-Maliki, Syekh Umar Hamdan, Syekh Muhammad Al-Araby, Sayyid Hasan Al-Masysyath, Syekh Abdullah Al-Bukhari, Syeikh Saifullah Daghestani, Syekh Syafi’i Kedah, Syekh Sulaiman Ambon, dan Syekh Ahyat Bogor.

Diriwayatkan bahwa para guru-guru beliau sangat menyayangi keduanya. Ketekunan dan kecerdasan mereka berdua sangat menonjol dibandingkan murid-murid lainnya. Hingga dalam beberapa tahun saja keduanya sudah dikenal di Kota Mekkah sampai keduanya dijuluki Dua Mutiara dari Banjar. Tak mengherankan jika keduanya di bawah bimbingan Sayyid Muhammad Amin Kutbi mampu mendapatkan kepercayaan mengajar selama beberapa tahun di Masjidil Haram.

Tak hanya mempelajari ilmu syariat saja, beliau juga mengambil bai’at tarekat dari para ulama di sana, diataranya bai’at Tarekat Naqsyabandiyah dari Syekh Umar Hamdan, Tarekat Sammaniyah dari Syekh Muhammad Ali bin Abdullah Al-Banjari dan Tarekat Idrisiyah dari ‘Alimul ‘Allamah Syafii bin Shalih Al-Qadiri.

Syekh Muhammad Syarwani Abdan juga dikenal sebagai murid utama dan khalifah dari guru besar bidang tasawuf, Sayyid Muhammad Amin Kutbi untuk Tanah Jawa (Indonesia). Dari Sayyid Muhammad Amin Kutbi inilah Guru Bangil banyak belajar dan mengkaji ilmu, khususnya tasawuf. Tak mengherankan jika kemudian Guru Bangil menjadi seorang ulama yang wara, tawadhu’, dan khumul, hafal Al Qur’an serta menghimpun antara syariat, tarekat, dan hakikat.

Pulang Ke Indonesia
Setelah kurang lebih sepuluh tahun berada di Makkah, pada tahun 1941 Guru Bangil bersama sepupunya kembali pulang ke Indonesia dan langsung menuju tanah kelahirannya, Martapura. Sepulang dari Mekkah, beliau menyelenggarakan mejelis ilmu di rumahnya dan sempat juga mengajar di Madrasah Darussalam.

Masyhurnya beliau sebagai ulama yang sempat mengajar di Masjidil Haram membuat para ulama di Martapura meminta Guru Bangil untuk menjadi Qadhi. Namun Guru Bangil menolak permintaan tersebut karena beliau lebih senang berkhidmat kepada umat tanpa terikat dengan lembaga apa pun. Dengan begitu, beliau lebih mudah mengatur waktu dan lebih maksimal dalam mengajar; muthola’ah; serta beribadah.

Pada tahun 1943 M, Syekh Syarwani Abdan pergi ke Kota Bangil dan tinggal di sana. Selama di sana, beliau mengisi waktu dengan membuka majelis untuk kalangan sendiri dan menuntut ilmu kepada Syekh Muhammad Mursyidi, dari Mesir. Kemudian tahun 1944, Guru Bangil kembali lagi ke Martapura dan melanjutkan majelis taklim yang dahulu dibinanya. Hingga tahun 1950, beliau sekeluarga memutuskan untuk hijrah ke Kota Bangil, Jawa Timur.

Tinggal di Bangil
Ketika sudah bermukim di Kota Bangil, Syekh Muhammad Syarwani Abdan dinikahkan dengan Hj. Bintang binti H. Abdul Aziz saat usia beliau lebih dari 30 tahun. Hj. Bintang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan beliau. Karena Hj. Bintang adalah anak paman beliau, yang berarti saudara sepupu. Dari pernikahannya dengan Hj. Bintang binti H. Abd. Aziz, Guru Bangil mempunyai anak yaitu : K.H. Kasyful Anwar, Zarkoni, Abdul Basit, Malihah, dan Khalwani.

Setelah isteri beliau yang pertama, Hj. Bintang meninggal dunia, beliau kemudian nikah lagi dengan Hj. Gusti Maimunah dan dari perkawinannya yang kedua ini beliau mempunyai beberapa orang anak lagi, diantaranya adalah Hj. Imil, Noval, Didi, Yuyun, dan Mahdi.

Selain kedua istri beliau, isteri beliau yang ketiga adalah Hj. Fauziah. Dari pernikahan dengan Hj. Fauziah, beliau mendapatkan beberapa orang anak juga yaitu M. Rusydi, Abdul Haris, dan Busra.

Saat di Bangil, Syekh Muhammad Syarwani Abdan tidak langsung membuka majelis untuk umum, hanya untuk orang-orang dekat saja. Beliau berbaur dengan lingkungan sekitar sebagaimana masyarakat umumnya. Dalam berpakaian, beliau tidak mengenakan pakaian yang menunjukkan bahwa beliau seorang ulama besar. Guru Bangil berpenampilan sederhana sebagaimana orang muslim biasanya.

Selain muthola’ah kitab setiap harinya, Guru Bangil juga mempunyai usaha toko bangunan di Bangil. Konon, usaha ini sesuai petunjuk dari guru beliau, Sayyid Muhammad Amin Kutbi. Sekian lama hal tersebut berlangsung, tak ada yang mengira -selain orang terdekat beliau di sana- bahwa beliau seorang ulama besar. Hingga datang isyarat untuk mengajarkan ilmu.

Membuka Majelis di Kota Bangil
Dikisahkan oleh KH. Syaifuddin Zuhri, suatu ketika sejumlah Kyai yang diketuai Kyai Abdul Hamid Pasuruan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Selama di sana, rombongan Kyai tersebut hendak menemui Sayyid Muhammad Amin Kutbi. Karena ada permasalahan pelik dalam agama yang menurut mereka hanya orang sekelas Sayyid Muhammad Amin Kutbi saja yang bisa menyelesaikan permasalahannya.

Ketika sampai di kediaman Sayyid Amin Kutbi, rombongan tersebut menyampaikan masalahnya. Sayyid Amin Kutbi menjawab bahwa permasalahan para kyai itu hendaknya dibawa kepada anak muridnya yang ada di Bangil Jawa Timur, yaitu Syekh Muhammad Syarwani Abdan. Sayyid Amin Kutbi kemudian menitipkan sepucuk surat untuk Syekh Muhammad Syarwani Abdan.

Saat ibadah haji selesai, rombongan kyai tersebut pulang ke Indonesia. Mereka bermusyawarah untuk menentukan waktu menemui Syekh Muhammad Syarwani Abdan. Saat tiba hari yang ditentukan, berangkatlah para Kyai tersebut menuju kediaman Guru Bangil.

Ketika sampai di rumah Syekh Muhammad Syarwani Abdan, rombongan Kyai ini melihat beliau sedang membaca kitab. Dengan sambutan yang ramah, beliau menyongsong tamu. Setelah bertukar sapa sebentar, Syekh Muhammad Syarwani Abdan meminta surat yang mereka bawa untuk dibuka. Padahal, sebelumnya tidak ada pembicaraan mengenai surat tersebut.

Para Kyai menduga, bahwa ulama yang ditunjuk Sayyid Amin Kutbi bukanlah ulama sembarangan. Satu keistimewaan yang sudah nampak di depan mata mereka, beliau tahu rombongan Kyai itu sedang membawa surat dari gurunya.

Setelah surat itu dibacakan dan maksud tujuan mereka disampaikan, Syekh Muhammad Syarwani Abdan yang telah lebih dulu membuka kitab, kemudian menyerahkan kitab yang masih terbuka itu kepada rombongan Kyai. Di sana, ditemui mereka jawaban dari permasalahan pelik yang tidak bisa diketahui para Kyai tersebut.

Kedalaman ilmu dan ketajaman mata batin Syekh Muhammad Syarwani Abdan membuat para kyai tersebut terpukau. Mereka kemudian meminta beliau mau mengajari mereka. Namun, Syekh Muhammad Syarwani Abdan tidak langsung menyetujui permintaan itu. Beliau lebih dulu menanyakannya kepada Kyai Abdul Hamid. Setelah Kyai Abdul Hamid mengisyaratkan persetujuan, barulah Syekh Muhammad Syarwani Abdan menggelar majelis untuk para Kyai tersebut.

Pada tahun 1970, Syekh Muhammad Syarwani Abdan memutuskan untuk mendirikan pesantren yang diberi nama PP. Datuk Kalampayan. Nama pesantren tersebut diambil untuk mengambil berkah julukan dari datuknya yaitu Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Para santrinya pun banyak yang berasal dari Banjar hingga pondok pesantren itu sering disebut Pondok Banjar.

Di antara murid-murid beliau adalah :
1. ’Alimul ‘Allamah Tuan Guru Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul) Martapura
2. K.H. Prof. Dr. Ahmad Syarwani Zuhri, Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Balikpapan.
3. K.H. Muhammad Syukri Unus, Pimpinan Majelis Taklim Sabilal Anwar al-Mubarak, Martapura.
4. K.H. Zaini Tarsyid, Pengasuh Majelis Taklim Salafus Shaleh Tunggul Irang Seberang, Martapura (selain sebagai murid, beliau juga anak menantu Guru Bangil).
5. K.H. Ibrahim bin K.H. Muhammad Aini (Guru Ayan), Rantau.
6. K.H. Ahmad Bakri (Guru Bakri), Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mursyidul Amin, Gambut.   
7. K.H. Asmuni (Guru Danau), Pengasuh Pondok Pesantren Darul Aman, Danau Panggang, Amuntai.
8. K.H. Sayfi’i Luqman, Tulungagung (Jawa Timur).
9. K.H. Abrar Dahlan, Pimpinan Pondok Pesantren di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
10. K.H. Muhammad Safwan Zahri, Pimpinan Pondok Pesantren Sabilut Taqwa, Handil 6, Muara Jawa, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Dan banyak lagi murid-murid lainnya yang tersebar di penjuru Indonesia

Tak hanya mengajar saja, Guru Bangil juga aktif menulis berbagai risalah agama berupa pelajaran dan pedoman praktis dalam memantapkan keyakinan dan amaliah beragama masyarakat. Diantara karya beliau yang sangat terkenal buku yang berjudul Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah. Risalah ini berisi pembahasan tentang masalah talqin, tahlil, dan tawassul.

Guru Bangil tidak mau karya tulis tersebut diperjual-belikan, itulah sebabnya beberapa risalah yang beliau himpun hanya ditulis dan beredar secara terbatas, karena tidak dicetak. Buku Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah yang tersebar secara luas tersebut beliau izinkan untuk dicetak atas amal jariyah dari donatur, sehingga dapat dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Menurut pandangan dari murid-muridnya, Guru Bangil adalah seorang guru yang bisa memahami dengan baik kemampuan, karakter dan bakat dari santri-santrinya. Sehingga mereka merasa dididik sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

Selain ahli dalam ilmu agama, Guru Bangil juga ahli ilmu bela diri (Silat). Keahlian ilmu bela diri juga beliau ajarkan kepada santri-santrinya untuk bekal bagi mereka dalam berdakwah melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Seorang murid beliau yang mewarisi ilmu bela diri silat itu dengan baik adalah (alm.) Guru Masdar Balikpapan.

Dalam bidang hadits, Guru Bangil sangat hati-hati dalam menggunakan sebuah hadits sebagai dalil, dilihat dulu bagaimana keshahihan hadits tersebut. Begitu juga dalam menyampaikan hadits, beliau sangat hati-hati dan penuh adab. Dalam bidang fiqih, Guru Bangil juga sangat ‘alim. Kealiman Beliau dalam bidang ini diakui oleh ‘Alimul ;Allamah Tuan Guru H. Anang Sya’rani Arif. Suatu ketika ada orang yang bertanya masalah fiqih kepada Tuan Guru H. Anang Sya’rani Arif, maka beliau menyuruh orang itu untuk bertanya kepada Guru Bangil.

Dalam masalah kehidupan, Guru Bangil terkenal sebagai ulama yang zuhud. Beliau pernah diberi hadiah mobil dan rumah mewah, namun semua itu ditolaknya. Bahkan sampai meninggal dunia pun beliau tidak mewariskan harta kepada anak cucu beliau. Guru Bangil sangat hati-hati dalam hal keduniawian.

Meninggal dunia
Tuan Guru Muhammad Syarwani Abdan meninggal pada malam Selasa pukul 20.00 WIB, tanggal 11 September 1989 M atau 12 Shafar 1410 H dalam usia 74 tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman keluarga dari para habaib bermarga Al-Haddad, berdekatan dengan makam Habib Muhammad bin Jafar Al-Haddad, di Dawur, Kota Bangil. Hingga kini makamnya sering diziarahi oleh umat dari berbagai penjuru daerah di Indonesia hingga luar negeri, terlebih dari Kalimantan. Ribuan ummat Islam dari pulau Kalimantan, khususnya Suku Banjar, mulai masyarakat biasa hingga gubernur dan bupati se-Kalimantan Selatan datang membanjiri Kota Bangil lebih-lebih pada hari haulnya beliau.
Guru Bangil banyak meninggalkan contoh yang patut untuk diteladani, beliau meninggalkan kebaikan yang layak untuk dikenang, dan beliau meninggalkan warisan yang patut untuk diikuti. Kehadiran beliau di tengah masyarakat Banjar dan Bangil serta Indonesia terasa sangat luar biasa.

source : rindugurusekumpul
Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan