Datu Suban Gurunya Para Datu

Makam Datu Suban

Datu Suban memiliki nama Sya'iban yang merupakan putra dari Datu Zakaria Zulkifli dengan istrinya yang bernama Maisyarah. Datu Suban tinggal di Desa Muning Tatakan Kabupaten Tapin Rantau, Kalimantan Selatan.

Semasa hidupnya beliau berada pada martabat tinggi, mulia, ramah, pemurah dan paling disegani oleh para datu dan masyarakat. Selain sebagai guru para datu di Muning, Datu Suban juga ahli ilmu tasawuf, ilmu taguh (kebal), ilmu kabariat, ilmu berjalan diatas air, ilmu maalih rupa, ilmu pandangan jauh, ilmu pengobatan, ilmu kecantikan, ilmu falakiah, ilmu tauhid dan ilmu firasat.

Karena banyaknya ilmu yang beliau kuasai maka banyaklah orang-orang yang datang berguru kepada beliau dan yang paling terkenal ada 13 orang Datu diantaranya :
1. Datu Murkat, ahli ilmu ksatria. Apabila ada orang yang hendak berbuat jahat kepadanya, maksud jahat orang tersebut tidak akan mengenainya, tubuhnya kebal, tidak mempan senjata yang terbuat dari besi.
2. Datu Tamingkarsa, mempunyai bergelar Singa Jaya. Ahli ilmu panglima kelasykaran, supaya gagah perkasa di medan perang. Beliau diangkat menjadi panglima dalam beberapa peperangan saat melawan penjajah Belanda.
3. Datu Niang Thalib, mempelajari ilmu Kabariyat Dunia. Ilmu ini berguna sebagai ilmu kedigdayaan dan keperkasaan. Apabila ada orang yang ingin berbuat jahat kepadanya maka hanya dengan menghentakkan kaki, orang itu serta merta akan taduduk (bersimpuh, lemah tak berdaya) di hadapannya. Menurut warga sekitar, beliau sampai sekarang dianggap masih hidup mendewata (menjadi makhluk gaib) sebagai penguasa alam gaib Hutan Pulau Kadap, Rantau.
4. Datu Karipis, menguasai ilmu kuat, gancang (kuat dan gesit), dapat berjalan di atas permukaan air, tidak hangus dibakar dan taguh (kebal) terhadap semua jenis senjata yang terbuat dari besi.
5. Datu Ungku, ahli ilmu kewibawaan dan ilmu dunia. Apabila ia menepukkan kedua tangannya maka semua orang yang mendengar dan berniat jahat kepadanya akan lemah lunglai tak berdaya dan akan bersimpuh di hadapannya.
6. Datu Ganun, ahli ilmu kesempurnaan dan kejayaan, dapat merubah diri menjadi empat tubuh sekaligus yang wajah dan bentuknya sama dan sulit diketahui mana tubuh yang asli.
7. Datu Argih, ahli ilmu kesempurnaan dunia dan akhirat. Tidak hanya perkasa dalam bidang ilmu keduniaan namun juga alim tentang ilmu agama dan sebagai seorang yang 'abid (ahli ibadah).
8. Datu Labai Duliman, memiliki kelebihan khusus di antara murid-murid lainnya di bidang ilmu Falakiyah (ilmu membaca dan menafsirkan huruf), ahli perbintangan dan mengetahui isi alam. Konon, beliau dapat mengetahui kapan turunnya hujan, kapan jatuhnya dedaunan dari dahannya dan sebagainya.
9. Datu Harun, mempelajari ilmu dunia, seperti ilmu kebal, kuat perkasa dan badannya keras bagai besi.
10. Datu Arsanaya. Sebelum menjadi murid Datu Suban, ia adalah orang yang sakti mandraguna, namun terkenal zalim dan kejam. Apapun yang ia inginkan akan dilaksanakannya walaupun melawan syariat Islam. Akhirnya beliau mendapat hidayah dari Allah SWT dengan menjadi murid Datu Suban. Dengan kebijaksanaan dan ketekunan Datu Suban dalam berdakwah serta membimbing masyarakat terutama terhadap murid-muridnya, akhirnya Datu Arsanaya bertobat dan mendapatkan ilmu yang manfaat dari Allah sampai ia menjadi alim dan ahli ibadah.
11. Datu Rangga, mempelajari ilmu kewibawaan dan ilmu dunia, seperti kepanglimaan, kekebalan dan lainnya.
12. Datu Galung Diang Bulan, beliau khusus mempelajari ilmu yang berkenaan dengan perempuan, seperti bamandi-mandi (memandikan perempuan) agar kelihatan selalu cantik, cepat mendapat jodoh, awet muda, dan agar selalu disayang suami dan lain-lain. Datu Galuh Diang Bulan terkenal tidak hanya di daerahnya saja tapi terkenal hingga keluar Kalimantan.
13. Datu Sanggul. Beliau ini adalah murid terakhir Datu Suban. Meski murid terakhir, Datu Sanggul-lah yang mampu menerima dengan sempurna semua ilmu yang diajarkan oleh sang guru, dan beliau ini yang berhak menerima serta mengajarkan sebuah kitab yang dikemudian hari bernama Kitab Barencong. (Baca : Manakib Datu Sanggul)

Dalam mengajar murid-muridnya, Datu Suban menekankan pada pengenalan diri. Seorang murid dituntut untuk belajar ilmu mengenal diri (jati diri, jati iman) dengan jalan/tarekat memusyahadahkan Nur Muhammad. Sebelum mencari ilmu ke-Tuhanan dan harus mengenal siapa sejatinya diri ini. Ada empat perkara dalam mengenal diri yaitu 
Arti diri tajalli
Arti diri terpari
Arti diri pari-pari
Arti diri yang berdiri


Dalam prinsip ajaran Datu Suban, beliau selalu menghimbau apabila sudah mengenal dan menemukan keempat perkara tersebut maka tahapan berikutnya adalah mengenal Allah SWT. Serta dirinya akan yakin dengan seyakin-yakinnya meng-Esakan Allah SWT, dengan Esa-nya Allah , Esa-nya Sifat Allah, Esa-nya Dzat Allah, Esa-nya Asma Allah, dan Esa-nya Af'al Allah.

Datu Suban dikenal sebagai wali Allah yang memiliki karamah berupa kasyaf yaitu terbukanya tabir rahasia sehingga dapat mengetahui sampai dimana kemampuan murid-muridnya dalam menerima ilmu-ilmu yang diberikannya. Contohnya pada saat menyerahkan kitab pusaka Barencong. Kitab tersebut beliau serahkan kepada Datu Sanggul (Abdus Shamad) murid terakhir yang belajar kepada beliau. Menurut pandangan kasyaf Datu Suban, hanya Abdus Shamad lah yang dapat menerima, mengamalkan dan mengajarkan kitab tersebut.

Karamah beliau yang lainnnya adalah dapat mengetahui kapan ajalnya akan tiba. Suatu ketika dari mata beliau keluar sebuah sosok yang rupanya sangat bagus, bercahaya dan berpakaian hijau, hal ini menandakan bahwa tujuh hari lagi beliau akan berpindah alam. Empat hari kemudian dari tubuh Datu Suban keluar lagi cahaya berwarna putih amat cemerlang. Besarnya sama dengan tubuh beliau dan baunya harum semerbak. Hal itu berarti tiga hari lagi beliau akan meninggalkan alam fana ini. Karena itu Datu Suban segera mengumpulkan murid-muridnya dan setelah berkumpul beliau berkata, "Murid-murid yang aku cintai, kalian jangan terkejut dengan panggilan mendadak ini, karena pertemuan kita hanya hari ini saja lagi. Nanti malam sekitar jam satu tengah malam aku akan meninggalkan dunia yang fana ini, hal ini tidak bisa ditunda-tunda lagi, karena ketentuan Allah telah berlaku."

Kemudian beliau membacakan firman Allah Surat An-Nahal ayat 61 yang berbunyi: "Apabila sudah tiba waktu yang ditentukan maka tidak seorang pun yang dapat mengundurkannya dan juga tidak ada yang dapat mendahulukannya." 

Mendengar ucapan beliau itu semua murid hadir diam seribu bahasa.

"Nah, waktuku hampir tiba" kata Datu Suban memecah kesunyian malam itu.

"Mari kita berdzikir bersama-sama untuk mengantarkan kepergianku" kata Datu Suban lagi.

Semua murid dipimpin oleh beliau serentak mengucapkan dzikir "Hu Allah... Hu Allah... Hu Allah..."

"Perhatikanlah ... apabila aku turun kurang lebih 40 hasta sampai pada batu berwarna merah sebelah dan hitam sebelah, aku berdiri di sana nanti, maka pandanglah aku dengan sebenar-benarnya, yang ada ini atau yang tiada nanti. Lihatlah akau ada atau tiada, kalau ada masih diriku ini tidak menjadi tiada, berarti ilmu yang kuajarkan kepada kalian belum sejati, tetapi bila aku menjadi tiada berarti ilmu yang kuajarkan kepada kalian adalah ilmu sejati dan sempurna."

Selesai berkata demikian beliau diam, kemudian meletuslah badan Datu Suban dan timbul asap putih, hilang asap putih timbul nur (cahaya) yang memancar mancar sampai ke atas langit yang tinggi kemudian lenyap ditelan kemunculan cahaya rembulan.

Murid-murid yang menyaksikan kejadian itu takjub dan serentak berkata "Inna lillahi wainna ilaihi raaji'uun."

source : Kisah Para Datu dan Ulama Kalimantan
Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan