Manakib Datu Sanggul Abdus Shamad

Datu Sanggul Abdus Shamad

Dikisahkan dahulu kala di Aceh, ada seorang pemuda yang tekun menuntut ilmu bernama Abdus Shamad. Sudah lama dia belajar ilmu syariat dari guru-guru yang ada di Aceh, namun hal itu tak membuat puas hatinya. Dia masih haus terhadap ilmu. Sudah banyak guru-guru di Aceh ditemuinya dan menimba ilmu dari mereka, hatinya belum juga merasa puas.

Beliau juga sudah berkeliling Aceh mencari guru ilmu Tauhid dan Tasawuf, namun belum juga ditemukan yang sesuai. Meskipun guru Tauhid dan Tasawuf banyak  di Aceh, tetapi yang dipelajarinya belum bisa memenuhi keinginan hatinya.

Dalam perjalanannya mencari ilmu ini, beliau mendengar kabar bahwa di Banten terdapat seorang guru yang sedang dicari-carinya. Seketika gembira hatinya, dia berlayar ikut menumpang para pedagang Palembang yang akan pulang ke negeri Palembang. Dari informasi para pedagang Palembang, Abdus Shamad akhirnya berguru kepada seorang ulama yang bernama Syekh Nurdin bin Ali Al-Habsyi.

Menuntut Ilmu di Tanah Borneo
Abdus Shamad semakin bingung, karena berapa guru sudah ditemunya, namun belum juga memperoleh keterangan yang dapat memuaskan dirinya. Beliau berdoa siang dan malam kepada Allah agar diberi petunjuk jalan yang dicarinya. Setelah berapa waktu dia berdoa siang dan malam, pada suatu hari dia tertidur karena kelelahan. Dalam tidurnya, dia dijumpai oleh seorang tua dan langsung bertanya: "Hai Abdus Shamad betulkah kamu hendak menuntut ilmu? Kalau kamu betul hendak menuntut ilmu, kamu harus pergi ke pulau Borneo. Guru yang dimaksud adalah Datu Suban dalam wilayah kerajaan Banjar. Di kampung Muning Tatakan, rumah guru Datu Suban dekat makam Datu Nuraya. Makam itu panjangnya 30 depa. 1 depa itu sama dengan satu setengah meter. Dengan demikian panjang kubur itu 45 meter. Kamu harus pergi ke pulau Borneo".

Abdus Shamad terkejut dan terbangun dari tidurnya. Dia menengok kiri dan kanan tak ada orang. Dia bersyukur dan mengucap "Alhamdulillah" karena dia diberi pertunjuk oleh Allah untuk mencari ilmu kesempurnaan yang selama ini dicari-carinya dan berdoa siang-malam.

Di lain tempat di Pulau Borneo tepatnya kampung Muning Tatakan, Datu Suban berbicara di hadapan murid-murdinya. Kata Datu Suban, "Hai murid-muridku dengarkanlah kata-kataku ini. Besok aku akan menerima tamu dari jauh yang datang ke sini semata-mata untuk menuntut ilmu kepada kita. Dia bernama Abdus Shamad berasal dari Aceh, kemudian menuntut ilmu di Banten. Kemudian menuntut lagi ke negeri Palembang dan besok akan datang ke sini untuk menuntut ilmu pula. Untuk menyambut Abdus Shamad ini, aku tugaskan kepada Ganun. Ganun harus berangkat menyusul ke simpang tiga dan menunggu di sana."

Setelah Abdus Shamad sampai di simpang tiga dengan mengucapkan salam, Abdus Shamad bertanya kepada orang yang sedang berdiri di hadapannya. Katanya, "Maafkan saya, saya ingin bertanya, ini kampung apa namanya". Ganun yang memang sedang menunggu orangnya langsung menjawab, "Ini kampung yang bernama kampung Muning Tatakan". Abdus Shamad mengucapkan "Alhamdulillah" dan bersyukur sampai ke tempat tujuan yang dicari.

Setelah beberapa lama Abdus Shamad berada dalam kamar dan melakukan khalwat disertai dzikir dan doa hanya semata-mata menyanggul ilham dari Allah, gurunya berkata: "Hai anakku apakah kamu sudah dapat menyanggul ilham dari Allah itu?" "Inggih-inggih, sudah dapat", kata Abdus Shamad.

Kemudian gurunya melanjutkan pertanyaannya, "Kalau kamu sudah dapat menyanggul ilham Allah, apa tandanya dan jelaskan buktinya." "Buktinya adalah, Bahwa Mekkah dan Madinah itu dekat sekali dan dekat pula dengan makam Nabi Muhammad SAW," kata Abdus Shamad. Langsung dijawab gurunya, "Cukup, sudah cukup kamu menyanggul ilham Allah."

Bukti lainnya adalah, "Ulun sangat rindu dengan Allah" dan dijawab oleh gurunya bahwa yang dicari itu adalah rindu kepada Allah. Oleh gurunya, Abdus Shamad diberi gelar Sanggul Abdus Shamad atau dikenal sebagai Datu Sanggul Abdus Shamad, atau dikenal dengan Datu Sanggul.

Kemudian di suatu hari, Datu Suban berkata pada murid-muridnya, "Kedatangan kamu kemari adalah untuk menyaksikan bahwa aku akan menyerahkan kitab pusaka yang sangat berharga kepada saudaramu Sanggul. Kamu semua jangan kecil hati, jangan iri hati kepada saudaramu Sanggul karena dapat kitab pusaka ini, sedangkan kamu tidak dapat." 

Serentak murid lainnya menjawab, "Inggih-inggih, kami tidak kecil hati dan tidak kecewa". Datu suban berkata, "Kepada Sanggul ditugaskan untuk mengajarkan isi kitab ini kepada keturunan kita dan jiran-jiran di sini dan kepada murid lainnya agar jangan membuat tuntutan di kemudian hari atas tugas ini."

Murid-muridnya serentak menjawab, "Inggih, kami tidak menuntut di kemudian hari".
"Yang kedua yang perlu kamu ketahui, mengapa semua kamu dikumpulkan di sini adalah bahwa aku sebagai gurumu akan pulang ke Rahmatullah, sebentar lagi aku akan pulang," kata Datu Suban kepada murid-muridnya.

Semua murid-muridnya terdiam dan merasa terkejut karena akan kehilangan guru mereka, namun mereka tidak ada yang berani berkata-kata.
Selanjutnya Datu Suban meneruskan pembicaraan dan memberi nasehat, "Sebentar lagi aku akan kembali ke asal kejadian, dan kamu harus hati-hati kalau aku sudah tidak ada lagi. Jangan terjadi silang sengketa di antara kamu sekalian, jangan mengadakan permusuhan sesama muslim karena semua muslim itu bersaudara. Jangan iri dengki, jangan mengadu domba sesama muslim. Orang muslim itu ibarat satu tubuh, kalau satu bagian anggota tubuhnya sakit, maka semua tubuhnya merasa sakit pula."

"Inggih, kami taati nasehat guru," serentak muridnya menjawab.

Datu Suban berkata lagi, "Hai anakku Sanggul, kamu anakku, aku akan kembali ke hadirat Allah, aku akan menyerahkan kitab pusaka ini kepada kamu."

Dengan segala rendah hati Datu Sanggul menerima kitab pusaka ini dan berkata bahwa dia bukan ahli waris dari kitab ini. Lebih baik diserahkan kepada Kakak Murkat, saudara tertua dari kami semua. Tetapi saudara-saudaranya termasuk yang tertua Datu Murkat, menyerahkannya kembali kepada Datu Sanggul.

Datu Suban selanjutnya berkata, "Nah sekarang saksikan semua bahwa kitab pusaka ini aku serahkan kepada Sanggul." Datu Sanggul menerima kitab pusaka itu dengan perasaan bangga dan terharu serta bersyukur kepada Allah karena dipercaya guru mereka memegang amanah memelihara dan mengajarkan kitab itu kepada anak keturunan dan jiran sekalian. Datu Sanggul mencium kitab pusaka itu dan langsung memeluk Datu Suban serta mencium tangan gurunya dengan ucapan, "Ulun minta ampun dunia akhirat dan ulun minta ridho dari pian atas ilmu yang pian berikan. Dan ulun tolong doakan agar tercapai mendapat keridhaan Allah dan mendapat syafaat Rasulullah."

Kepada Datu Murkat, murid tertua dari semua murid Datu Suban, Datu Suban berkata, "Hai anakku Murkat, kamu sebagai pengganti aku memberi nasehat kepada saudara-saudara kamu, sebijaksana mungkin yang dapat kamu lakukan, agar mereka menjadi orang yang beriman kepada Allah." Demikianlah kata-kata terakhir dari guru mereka Datu Suban. Setelah itu murid-muridnya menyaksikan Datu Suban kembali ke hadirat Allah.

Setelah Datu Suban mengucapkan "Assalamu'alaikum", dan dijawab oleh murid-muridnya "Wa'alaikum salam", maka meletuslah dan muncul kukus atau asap, terus menghilang lenyap seiring dengan lenyapknya guru mereka Datu Suban. Tidak diketahui ke mana perginya guru mereka, kenyataannya guru mereka yakni Datu Suban tidak ada lagi di hadapan mereka.

Untuk menunaikan amanat gurunya, Datu Sanggul mulai mengajar murid-murid yang menuntut ilmu kepadanya. Muridnya bertambah banyak, karena memang Datu Sanggul seorang yang 'alim dan bahkan menjadi seorang wali Allah, namun tak seorang pun yang tahu bahwa di wali Allah. Setiap hari Jumat dia sembahyang Jumat di Mekkah atau Madinah dan tidak pernah sembahyang di Masjid Muning Tatakan.

Pada zaman itu semua orang yang tidak shalat Jumat harus lapor pada Labai, kalau tidak lapor, akan dikenakan denda. Perintah melaksanakan shalat Jumat itu sehubungan dengan surah dari Syekh Muhamamd Arsyad Al-Banjari yang datang dari Mekkah yang mengharapkan agar raja membuat perintah kepada rakyat kerajaan agar wajib shalat fardhu Jumat. Kalau melanggar dijatuhui hukuman denda.

Di dalam sistem pengadilan dan hukum Islam Kerajaan Banjar, pengadilan berdiri sendiri dan tidak boleh dicampuri oleh kerajaan. Pengadilan di tingkat distrik yang disebut dengan wilayah Lelawangan setingkat Kabupaten kalau zaman sekarang dan tingkat lurah setingkat kecamatan kalau sekarang. Kepala pengadilan adalah penghulu. Jadi tugas penghulu di samping berwenang menikahkan seseorang, juga sebagai kepala pengadilan terhadap segala macam pelanggaran pada kerajaan.

Di kampung Muning Tatakan, kepala pengadilan dijabat oleh penghulu kampung yang memutuskan segala pelanggaran tingkat kampung. Dalam menjalankan tugasnya, penghulu ini dibantu oleh aparat hukum yang bertugas sebagai polisi kampung yang terdiri dari Tuan Khatib, Tuan Bilal dan Tuan Kaum. Yang dimaksud dengan Labai dalam cerita ini adalah Tuan Bilal, pada masa Kerajaan Banjar. Tuan Kaum itu adalah polisi desa yang menangkap seseorang kalau terjadi pelanggaran hukum di kampung. Berbeda dengan saat ini. Tuan Kaum merupakan jabatan paling rendah, sebagai pekerja kebersihan. Semua jabatan seperti Tuan Penghulu, Tuan Khatib, Tuan Bilal dan Tuan Kaum adalah pejabat kerajaan yang diberi imbalan gaji oleh kerajaan.

Datu Sanggul yang diketahui tidak Sholat Jumat dikenai denda dan dihampiri Tuan Labai. "Berapa besar dendanya?", kata Datu Sanggul yang kemudian dijawab oleh Tuan Labai, "Dendanya sekali Jumat tidak shalat fardhu, sebesar dua real sesuku atau dua real setengah."

Datu Sanggul langsung membayar uang denda tersebut. Namun, setiap Datu Sanggul tidak shalat Jumat ke Mesjid Muning, Tuan Labai terus mengambil denda sebanyak dua real sesuku. Hal tersebut berlangsung beberapa lama.

Suatu saat, Datu Sanggul tidak punya uang, Tuan Labai mengambil denda dengan barang yang ada di rumah, yang nilainya seharga dua real sesuku, barang-barang itu antara lain parang lanting, parang ganggaman, tajak, parang bungkul, karis dan berbagai alat rumah tangga lainnya.

Sampai pada suatu hari istri Datu Sanggul dengan terpaksa memberanikan diri berbicara kepada suaminya karena barang untuk bayar denda sudah habis jikalau Jumat mendatang Datu Sanggul tidak ke Masjid, sedangkan yang tertinggal hanya sebuah kuantan atau periuk dari tanah dan sebuah landai. Harga kedua barang itu tidak mencukupi dibandingkan dengan nilai harga dua real sesuku.

Dengan suara belas kasihan istrinya mengharapkan agar suaminya, Datu Sanggul pada hari Jumat mendatang melakukan shalat Jumat di Mesjid Muning Tatakan, supaya Tuan Labai tidak datang ke rumah menagih denda. Isterinya berkata, "Kalau Tuan Labai datang lagi menagih denda, kita malu karena tidak dapat membayar denda." Kemudian Datu Sanggul menjawab, "Insya Allah kalau tidak ada udzurnya, malam Jumat yang akan datang hujan lebat luar biasa."

Di malam Jumat berikutnya, saat sore hari langit tiba-tiba mendung dan penuh dengan awan yang makin lama makin tebal. Hingga memasuki waktu Isya' turun hujan sangat lebat.
Keesokan harinya menjelang waktu shalat Jumat, air belum juga surut, sehingga orang harus menyingsingkan sarungnya supaya tidak basah. Orang-orang mengambil air wudhu hanya di sekitar masjid, karena seluruh halaman dan sekitarnya digenangi air. Ketika orang-orang mengambil air wudhu itulah Datu Sanggul datang ke masjid. Jika orang-orang mengambil air wudhu hanya di sekitar masjid, lain halnya dengan Datu Sanggul. Beliau datang dan mengambil air wudhu dengan cara menceburkan diri ke tengah sungai dan langsung tenggelam. Hingga lama tenggelamnya sampai semua orang mencari ke hilir sungai dan sekitarnya. Hampir semua jamaah masjid ikut mencari Datu Sanggul, ternyata tidak juga ditemukan. Semua orang berpikir bahwa Datu Sanggul telah mati lemas dan telah hanyut dibawa arus yang deras. Ada yang berkata, "Mengapa melompat ke tengah sungai, sudah jelas tenggelam." Ada lagi yang berkomentar, "Kalau tidak bisa berenang jangan mencoba-coba ke tengah sungai."

Pada saat orang ribut membicarakan kejadian itu, tiba-tiba Datu Sanggul muncul di atas air dan berjalan di atas air dengan pakaian tidak basah kecuali anggota wudhu. Dia berjalan seperti orang berjalan di darat saja. Kontan saja semua orang terheran-heran. Mereka heran, Datu Sanggul tenggelam di dalam air dan tidak basah, bahkan berjalan di atas air. Pada saat itu bilal sudah mengumandangkan adzan dan orang-orang masuk ke dalam masjid.

Orang-orang di masjid dibuat makin terkejut tatkala Imam Masjid mengumandangkan takbir untuk sholat dan diikuti jamaah lainnya, namun Datu Sanggul hanya berpantun
Riau riau padang si bundan
Disana padang si tamu-tamu
Rindu dendam tengadah bulan
Di hadapan Allah kita bertemu .... Allahu Akbar ....

Seketika itu juga badan Datu Sanggul terangkat makin lama makin tinggi dan terus menghilang dari pandangan orang yang berada di dalam masjid itu.

Saat jamaah sholat Jumat masih diliputi keheranan, ketakjuban atas kebesaran dan kuasa Allah, Datu Sanggul perlahan-lahan mengulurkan kakinya dan akhirnya berada kembali di masjid dan di tengah para jamaah. Sebelum orang bertanya kepada Datu Sanggul, Datu Sanggul memulai pembicaraannya terlebih dahulu, "Aku tadi pergi ke Mekkah dan kemudian ke Madinah, tetapi belum waktunya shalat kebetulan bertemu dengan orang berselamatan dan aku ada membawa sedikit makanannya."

"Nah Tuan Labai tolong bagikan makanan ini", Datu Sanggul berkata sambil menyerahkan makanan itu untuk dibagikan kepada orang di dalam masjid. Tuan Labai membagi-bagikan makanan tersebut dan meski semua orang dalam masjid itu mendapat bagian, namun makanan masih tersisa. Semua orang mendapatkan oleh-oleh Datu Sanggul dari Mekkah hingga masing-masing merasa kekenyangan.

Sejak kejadian menghebohkan itu barulah masyarakat tahu bahwa Datu Sanggul adalah golongan Wali Allah, sehingga pembayaran denda baik yang berupa uang maupun benda dikembalikan lagi kepada beliau.

Pertemuan kembali dengan Datu Kalampayan
Dikisahkan sebelum Datu Kalampayan atau Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari datang ke kampung Muning Tatakan untuk mengambil bagian satunya dari Kitab Barencong kepada Datu Sanggul, Datu Sanggul meminta para muridnya untuk berhenti sejenak karena ada yang mau disampaikan. Beliau meminta para muridnya dan masyarakat untuk gotong royong mempersiapkan segalanya karena akan kedatangan tamu dari jauh yaitu Datu Kalampayan.

Pada hari itu adalah hari Jum'at dan beliau berkata kepada istrinya, "Duhai adinda tercinta, kakanda akan tidur, tolong kakanda jangan diganggu dan jangan pula membuka kelambu." 
"Baik kanda, tapi kakanda apabila ada yang ingin bertemu dengan kakanda dengan keperluan yang sangat penting apakah dinda boleh membangunkan kakanda?" kata istrinya bertanya.
"Kalau ada keperluan sangat penting silahkan saja." jawab Datu Sanggul.

Lama sekali beliau masuk ke dalam kelambu dan tidak keluar keluar kamar, padahal saat itu hari Jum'at. Istri beliau memanggil sampai tiga kali, karena waktu sholat Jum'at makin dekat. Istri beliau menjadi bimbang disatu sisi suami beliau sudah berwasiat agar jangan diganggu. Namun disisi lainnya sholat Jum'at adalah kewajiban. Akhirnya istrinya memberanikan diri membuka kelambu, namun yang terjadi adalah suami yang dicintainya tidak ditemukan dan yang terlihat adalah setetes air yang sangat bening dan putih berkilauan di atas kain putih. Setelah melihat kejadian tersebut dengan rasa heran bercampur kagum, kelambu itu ditutup kembali oleh istrinya. Dan tak lama kemudian datanglah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Setelah memperkenalkan diri, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari bermaksud ingin bertemu Datu Sanggul. Ternyata setelah kelambu dibuka kembali oleh istri beliau, Datu Sanggul sudah kembali ke wujud semula tapi dalam keadaan sudah meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun.
Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari kemudian menyerahkan kain putih 5 lembar yang pernah dipesan oleh Datu Sanggul waktu mereka terakhir bertemu dan ternyata kain putih itu akan dipakai untuk kain kafan beliau. Kemudian diberitahukan kepada murid-murid beliau dan masyarakat sekitar, maka datanglah orang-orang untuk menolong dan melaksanakan fardu kifayah hingga selesai dan beliau dimakamkan di kampung Muning Benua Nyiur Tatakan Rantau.

Selesai acara pemakaman Datu Sanggul, kemudian Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari menceritakan pertemuan beliau dengan Datu Sanggul dan menyampaikan pesan-pesan beliau termasuk pesan untuk mengambil sambungan Kitab Barencong. Istri Datu Sanggul memakluminya karena sebelum beliau meninggal sudah memberikan wasiat kepada istrinya untuk menyerahkan kitab tersebut tapi terlebih dahulu beliau menyampaikan hal tersebut kepada murid-murid Datu Sanggul. Setelah itu kitab tersebut diserahkan kepada Syekh Muhammad Arsyad al Banjari.

Syair Saraba Ampat
Masyarakat meyakini bahwa salah satu karya dari Datu Sanggul adalah syair pantun saraba ampat dalam bahasa banjar yang berisi tentang ajaran tasawuf. Bunyi syair tersebut adalah
Syair Saraba Ampat
Allah jadikan saraba ampat
syariat tharikat hakikat ma'rifat
menjadi satu didalam khalwat
rasa nyamannya tiada tersurat

Huruf ALLAH ampat banyaknya
Alif i'tibar dari pada Zat-NYA
Lam awal dan akhir Sifat dan Asma-NYA
Ha isyarat dari Af'alnya

Jibril Mikail Malaikat mulia
Isyarat  sifat Jalal  dan Jamal
Izrail Israfil rupa pasangannya
I'tibar sifat Qahar dan Kamal

Jabar ail asal katanya
Bahasa Suryani asal mulanya
Kebesaran ALLAh itu artinya
Jalalullah bahasa Arabnya

Nur Muhammad bermula nyata
Asal jadi alam semesta
seumpama api dengan panasnya
itulah Muhammad dengan Tuhannya

Api dan banyu tanah dan hawa
itulah dia alam dunia
menjadi awak barupa rupa
tulang sungsum daging dan darah 

Manusia lahir ke Alam Insan
di Alam Ajsam ampat bakawan
Si Tubaniyah dan Tambuniyah
Uriyah lawan si Camariyah

Rasa dan akal daya dan nafsu
didalam raga nyata basatu
AKU meliputi segala liku
Matan hujung rambut sampai kahujung kuku

Tubuh dan hati nyawa rahasia
Satu yang zahir amat nyatanya
Tiga yang batin pasti adanya
Alam shagir itu sabutnya

Mani Manikam M adi dan Madzi
Titis manitis jadi menjadi
Si anak adam balaksa kati
Hanya yang tahu ALLAHU RABBI

Kaampat ampatnya kada tapisah
datang dan bulik kepada ALLAH
Asalnya awak daripada tanah
Asalpun tanah sudah disarah

Dadalang Simpur barmain wayang
Wayang asalnya sikulit kijang
Agung dan sarun babun dikancang
kaler bapasang diatas gadang

Wayang artinya sibayang bayang
Antara kadap silawan tarang
semua majaz harus dipandang
Simpur balalakun hanya saorang

Samar Bagung si Nalagaring
Sijambulita suaranya nyaring
Ampat isyarat amatlah penting
Siapa nang handak mancari haning

source : Manakib Datu Sanggul
Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan