Sadar Akan Kematian

Sadar Kematian

Dahulu kala, ada seorang raja darwis yang melakukan perjalanan melalui laut dengan menumpang kapal. Ketika para penumpang lain memasuki perahu satu per satu, mereka melihatnya dan sebagai lazimnya mereka meminta nasehat kepada sang darwis itu.

Apa yang dilakukan semua darwis tentu sama saja, yakni memberitahu orang-orang itu hal yang itu-itu juga. Darwis itu tampaknya mengulangi salah satu bahasan yang menjadi perhatian darwis sepanjang masa.

Bahasan tersebut adalah: "Cobalah menyadari maut, sampai kau tahu maut itu apa." ujar sang darwis itu. Hanya beberapa penumpang saja yang secara khusus tertarik akan peringatan itu.
Mendadak ada angin topan melesat. Awak kapal maupun penumpang semuanya berlutut, memohon kepada Tuhan agar menyelamatkan perahunya. Mereka terdengar berteriak-teriak ketakutan, menyerah kepada nasib, meratap mengharapkan keselamatan. Selama kejadian itu berlangsung, sang
darwis duduk tenang, merenung, sama sekali tidak memberikan reaksi terhadap gerak-gerik dan suasana yang ada disekelilingnya.

Hingga akhirnya suasana mencekam itu pun berhenti, laut dan langit tenang, dan para penumpang menjadi sadar menyaksikan betapa tenang darwis itu selama peristiwa mengerikan sebelumnya berlangsung.

Salah seorang bertanya kepadanya, "Apakah Tuan tidak menyadari bahwa pada waktu angin topan bertiup itu tak ada yang lebih kokoh daripada selembar papan, yang bisa memisahkan kita dari maut?"
"Oh, tentu," jawab darwis itu. "Saya tahu, di laut selamanya begitu. Tetapi saya juga menyadari jika saya berada di darat dan merenungkannya, dalam peristiwa sehari-hari biasa, pemisah antara kita dan maut itu lebih rapuh lagi."
Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan