Kisah Datu Nuraya

Riwayat mengenai Datu Nuraya tak begitu banyak dikenal oleh masyarakat dibandingkan Datu Sanggul atau Datu Suban. Namun bagi masyarakat daerah Rantau, Kabupaten Tapin, beliau ini banyak dikenal dan makamnya sering diziarahi.

Datu Nuraya mempunyai nama Syekh Abdul Mu'in (sebagian riwayat ada yang menyebutkan nama beliau sebenarnya adalah Syekh Abdul Jabbar). Ada juga yang menyebutkan beliau adalah seorang ulama asal Syria.

Makam Datu Nuraya
Makam Datu Nuraya, Tatakan, Tapin

Dalam penulisan manakib ini, mengisahkan pertemuan antara Datu Nuraya dengan Datu Suban dan murid-muridnya. Suatu ketika hiduplah seorang guru dari sekalian Datu-datu yang ada di Rantau, seorang guru yang miskin harta tapi sangat dalam dan tinggi ilmu tasawufnya serta dikenal sebagai orang yg kasyaf, tinggalnya di Munggu Tayuh Tiwadak Gumpa Tatakan dekat Liang Macan.

Konon, suatu hari Datu Suban mengundang murid-muridnya dan orang-orang kampung untuk berdialog tentang permasalahan ilmu agama, muamalat dan makrifat. Dikarenakan rumah Datu Suban sempit dan kecil, maka banyak jamaah yang tidak tertampung didalam rumah. Namun para jamaah masih antusias mendengarkan dan mengikutinya dari luar rumah dengan kerendahan hati.

Kemudian Datu Suban memulai  pembicaraan nya dengan mengucapkan "Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh," kemudian para jamaah menjawab "Wa'alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh."

Lanjut, Datu Suban berkata "Saya sengaja mengundang tuan-tuan ke rumahku ini ingin membicarakan masalah kenduri atau upacara selamatan hari raya Idul Fitri yang kita nantikan isi dan keberkahan nya."
"Apakah ada saran dari tuan-tuan, di mana yang cocok kita berkumpul melaksanakan selamatan nanti?"

Seorang muridnya yang bernama Datu Taming Karsa menyarankan untuk melaksanakan selamatan tersebut selesai Sholat Hari Raya dan berkumpul di tempat Datu Suban saja. Semua orang setuju dengan apa yang diucapkan itu.

Setelah para jamaah menyetujui usulan Datu Taming Karsa, keesokan harinya masyarakat berdatangan dan bergotong-royong untuk membersihkan dan menyiapkan halaman rumah Datu Suban sebagai tempat melaksanakan Sholat Idul Fitri dan selamatan.

Keesokan harinya, Sholat Idul Fitri dilaksanakan, bertindak sebagai imam dan khatib serta doa adalah Datu Suban. Sebelum para jamaah pulang ke tempat masing-masing, upacara selamatan langsung dimulai. Para jamaah pun menyambut suka cita selamatan itu. Namun ketika sedang asyik melakukan selamatan mereka dikejutkan dengan kedatangan sosok tamu yang tinggi besar seperti raksasa.
Tak sedikit diantara para jamaah ketakutan dan berlarian untuk mencari perlindungan dan mengambil senjata ala kadarnya untuk melakukan pembelaan. Di saat semuanya berhamburan ada sosok yang tetap tenang yaitu Datu Suban. Beliau tetap berdiri dengan tegap dan berkata pada anak angkatnya, "Taming karsa, Murkat dan Karipis tetap tenang."
Orang besar tersebut kemudian mengucapkan salam, "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
 "Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh"
jawab para Datu.

Lalu Datu Suban menerangkan kepada para Datu yang hadir bahwa orang yang datang sambil memberi salam Insya Allah akan berniat baik.

Datu Suban mendekati makhluk raksasa tadi dan berkata, "Siapakah engkau gerangan dan ada perlu apa serta handak kemana"
Raksasa tadi hanya menjawab dengan ucapan "La Ilaaha Illallah" dan dzikir tersebut diulang tiap kali Datu Suban bertanya hingga 7 kali, dan makhluk besar tersebut merendakan dirinya hingga duduk di tanah dan roboh di hadapan Datuk Suban serta tak bernapas lagi.

Para Datu menghampiri raksasa itu dan memeriksanya, ternyata raksasa tersebut sudah meninggal dunia, dengan serempak para datu mengucapkan "Innaa lillahi wainna ilahi roji'un".

Kemudian Datu Suban bersama para muridnya mempersiapkan proses memandikan, mengkafani, mensholatkan dan pemakaman orang tersebut seperti halnya orang muslim lainnya yang meninggal.
Namun, melihat keadaan saat itu para datu kebingungan bagaimana memandikan dan menguburkan raksasa tersebut. Untuk mengangkat saja bisa jadi masalah, apalagi pada waktu itu sedang kemarau panjang, biasanya tanah sangat keras sedangkan lubang untuk kuburan harus dibuat sangat panjang dan lebar, dan untuk memandikannya diperlukan air yang sangat banyak. Di tengah kebingungan para Datu, tiba tiba saja turun hujan deras dan ketika mereka mengangkat tubuh tersebut sangatlah ringannya seperti sehelai kapas, serentak para datu berseru "Subhanallah".

Sebelum para datu membersihkan jenazah itu, Datu Suban menemukan sebuah tass selempang dari dalam pakaian raksasa itu. Setelah dibuka ternyata didalamnya terdapat sebuah kitab yang dikemudian hari bernama Kitab Barencong.

Para Datu langsung berbagi tugas ada yang memandikannya, ada yang mencari batu gunung untuk nisan dan ada yang menggali lubang untuk kuburan.

Menurut riwayat , Datu Karipis yang mencarikan batu nisannya. Kemudian Datu Suban bersama para datu lainnya menggali lubang kuburan untuk memakamkan orang itu di Munggu Karikil dekat Munggu Tayuh, di situlah orang tersebut dimakamkan.

Karena waktu sudah mendekati senja dan lubang pemakaman tidak mampu digali sesuai dengan panjang dan tinggi orang tersebut, maka terpaksa kaki orang tersebut dilipat tiga atau orang biasa menyebutnya dengan lipatan Hamzah.

Saat selesai pemakaman tersebut para jamaah berbondong-bondong pulang ke rumah masing masing. Namun Datu Suban berpesan pada anak angkatnya yang berjumlah 12 orang tersebut untuk mebicarakan ma-arwahi orang tersebut selama seratus hari dengan ala kadarnya sesuai kemampuan mereka, atau bahasa sederhananya dengan mentahlilkan dan menjaga makam selama itu. Selama tiga hari tiga malam para Datu anak angkat Datu Suban tidak pulang kecuali diberikan izin untuk pulang.
Kitab yang dibawa oleh seorang raksasa besar tadi itulah yang nantinya akan diamalkan oleh Datu Suban dan murid-muridnya yang kelak akan dikenal dengan Kitab Barencong. Kitab itu nantinya beliau serahkan kepada murid terakhirnya yang bernama Datu Sanggul (Abdus Samad).

Tepat 7 hari ma-arwahi orang besar tersebut maka berkumpullah para datu di rumah Datu Taming Karsa di Simpang Tiga Tandui Baruh Hariyung yang dinamakan Pamatang Gintungan  Misan Batu. Disitulah Datu Suban mulai membuka kitab peninggalan yang didapat dari orang besar itu.

Dengan mengucap "Bismillahirrahmanirrahim" dibukalah kitab itu oleh Datu Suban lembar demi lembar hingga selesai. Ternyata isi kitab tersebut mengandung berbagai macam ilmu, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Konon, ketika kitab itu diserahkan kepada Datu Sanggul kemudian diturunkan lagi kepada saudara angkatnya yaitu Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan disimpan keturunan beliau hingga saat ini.

Atas saran dari Datu Labai Duliman yang ahli falakiah, orang besar tersebut dinamakan NURAYA. Karena orang tersebut datang pada hari raya dan sesuai dengan badannya yg besar dan tinggi seperti RAYA. Datu Nuraya bersal dari dua kata "NUR" dan "RAYA". NUR yang dalam bahasa arab artinya "cahaya", sedangkan RAYA artinya luas. Jadi NURAYA artinya pembawa cahaya dan sinar serta ilmu yg luas seperti Raya.

Hingga saat ini makam Datu Nuraya ramai diziarahi orang karena keunikan dan kekeramatannya serta merupakan makam terpanjang di dunia yang letaknya didaerah Tatakan Rantau Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan.


source : petilasankeramat, hikayat datu suban
Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan