Riwayat Habib Hamid Basirih

Kubah Basirih

Habib Hamid bin Abbas Bahasyim atau sering dikenal dengan Habib Hamid Basirih merupakan seorang ulama Banjar, Kalimantan Selatan. Silsilah beliau adalah Habib Hamid bin Abbas bin Abdullah bin Husin bin Awad bin Umar bin Ahmad bin Syekh bin Ahmad bin Abdullah bin Aqil bin Alwi bin Muhammad bin Hasyim bin Abdullah bin Ahmad bin Alwi bin Ahmad Al Faqih bin Abdurrahman bin Alwi Umul Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath.

Habib Hamid Basirih masih satu keturunan dengan Sunan Ampel (Syekh Rahmatullah) yang makamnya di Ampel, Surabaya. Beliau berdua sama-sama keturunan dari Habib Muhammad Shohib Mirbath (keturunan ke-16 dari Rasulullah SAW). Silsilah keduanya ini bertemu di Habib Alwi Ummul Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath. Sunan Ampel (keturunan ke-23 dari Rasulullah SAW) dari jalur putra Alwi Ummul Faqih yang bernama Abdul Malik (yang hijrah dari Tarim, Hadramaut, ke India) sedangkan Habib Hamid Basirih (keturunan ke-36 dari Rasulullah SAW) dari jalur putra Alwi yang bernama Abdurrahman.

Dilihat dari zaman hidupnya, beliau berdua ini berbeda jauh. Sunan Ampel jauh lebih tua dan lebih sepuh dari Habib Basirih. Sunan Ampel hidup di zaman Kerajaan Majapahit dan Demak sedangkan Habib Hamid Basirih hidup di zaman penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang.

Habib Hamid Basirih terlahir dari pasangan Habib Abbas Bahasyim dan Syarifah Sya'anah. Makam Syarifah Sya'anah terletak beberapa puluh meter dari makam Habib Hamid Basirih. Sedangkan makam Habib Abbas bin Abdullah Bahasyim, suami Syarifah Sya’anah/ayah dari Habib Hamid Basirih hingga kini belum diketahui keberadaannya secara pasti. Ada yang mengatakan bahwa makam Habib Abbas Bahasyim di pemakaman habaib di Basirih seberang sungai di dekat Masjid Jami Darut Taqwa Kelurahan Basirih, Banjarmasin Selatan. Masjid ini menurut keterangan didirikan tahun 1822 oleh H. Mayasin. Pada tahun 1848 M keluarga Habib Basirih pernah merehab masjid ini. Namun ada juga yang mengatakan bahwa Habib Abbas dimakamkan di wilayah Sungai Baru. Semasa hidupnya, Habib Abbas terkenal sebagai saudagar yang kaya raya dan mempunyai banyak kapal dagang. Selain itu beliau mempunyai tanah yang cukup luas di wilayah Basirih di samping Sungai Baru.

Dikisahkan bahwa leluhur Bahasyim di Banjar adalah Habib Awad bin Umar. Beliau keturunan ke-32 dari Rasulullah Muhammad SAW. Sebagian besar anggota keluarga Bahasyim berpandangan bahwa Habib Awad adalah Bahasyim tertua (paling awal) yang datang ke Tanah Banjar.

Dilansir dari manaqib Habib Hamid Basirih, beliau adalah seorang majzdub, yakni diangkat Allah SWT akal basyariyahnya (akal kemanusiaan) diganti dengan akal robbaniyyah (ketuhanan). Bahasa yang beliau ucapkan pun di luar nalar orang awam. Bahkan, semasa hidupnya, Habib Hamid Basirih sering mengucapkan bahasa isyarat yang hanya dipahami sebagian kalangan.

Habib Hamid Basirih pernah berkhalwat selama beberapa tahun di dalam sebuah rumah (gubuk) kecil yang letaknya tak jauh dari makamnya sekarang. Kemudian pada zaman pendudukan Jepang di Banjarmasin, Habib Hamid Basirih keluar dari khalwatnya. Banyak perilaku beliau yang sulit dipahami orang awam sebagai pekerjaan kewalian beliau dalam menyelamatkan orang lain.

Konon, suatu hari beliau menggunakan gayung (tempat mengambil air) untuk memindahkan air dari satu tempat ke tempat lain. Orang-orang yang melihat, menilai pekerjaan itu sebagai perbuatan sia-sia. Padahal itu adalah cara beliau menyelamatkan kapal penumpang yang nyaris tenggelam di laut. Selang tak seberapa lama datanglah orang ke rumah beliau mengucapkan terima kasih karena kapal yang mereka tumpangi itu diselamatkan oleh Habib Hamid Basirih.

Kisah lainnya, beberapa pria dari atas perahu melintas di depan batang Habib Hamid. Mereka mengolok-olok Habib Hamid Basirih ketika beliau sedang mandi di atas batang. Gerak-gerik Habib Hamid yang ganjil membuat mereka mengeluarkan ucapan yang kurang pantas. Tiba-tiba saja perahu yang mereka tumpangi menabrak tebing sisi sungai dan kandas.

Diceritakan juga, seorang pedagang ikan berperahu yang menolak panggilan singgah dari Habib Hamid Basirih. Pedagang itu menyangka Habib Hamid Basirih tak mungkin membayar barang dagangannya. Akibatnya, selama seharian tak satupun barang dagangannya laku terjual. Sementara itu pedagang lainnya yang menghampiri panggilan Habib Hamid Basirih, bisa pulang lebih cepat karena dagangannya hari itu habis terjual.
Habib Hamid Bahasyim Basirih
Habib Hamid Bahasyim Basirih

Habib Hamid Basirih mempunyai 4 orang anak, 3 orang putri dan 1 orang putra. Dari 1 putra beliau yang bernama Habib Hasan Bahasyim mempunyai 1 anak laki-laki yang bernama Habib Idrus Bahasyim dan beberapa anak perempuan, salah satunya adalah Syarifah Khadijah Bahasyim (Ibu Dijah) yang masih hidup dan tinggal dekat Kubah Basirih.

Habib Idrus Bahasyim (satu-satunya cucu laki-laki Habib Basirih) menikah 2 kali dan mendapatkan anak yaitu :
Dari Syarifah Raguan Baroqbah (istri pertama) mempunyai anak Syarifah Fizria Maryam (Banjarbaru), Habib Fitri Hamid (qubah Basirih), Habib Fathur Rahman Bahasyim (Banjarmasin), Habib Fadil Bahasyim (Samarinda)
Dari Syarifah Hani Bilfaqih (istri kedua) mempunyai anak Habib Ali Bahasyim (Jakarta), Syarifah Zuraida Bahasyim (Banjarmasin), Habib Fu’ad Bahasyim (Banjarmasin)

Pada tahun 1949 dan di usia yang ke 90, Habib Hamid Basirih berpulang ke rahmatullah. Innalillahi wainna ilahi roji'un. Makam beliau terletak di Jalan Keramat RT 9 RW 01, Kelurahan Basirih, Banjarmasin. Lokasi makam menghadap ke sungai yang ada di sebrang jalan.

Salah satu keturunan Habib Hamid Basirih yakni Syarifah Khadijah (Ibu Dijah) pernah mengungkapkan, suatu hari dirinya bersama warga sekitar pernah sangat ketakutan dengan pesawat tempur Jepang yang lalu lalang di atas langit Banjarmasin. Kebetulan saat itu para warga berkumpul di depan rumah Habib Hamid.

Para warga teriak-teriak kalau sedang diserang. Tak lama kemudian Habib Hamid Basirih keluar rumah dan mengambil kayu serta mengucapkan doa-doa. Setelah itu kayu tersebut dirakit seperti bentuk remote control. Dengan kayu itu, Habib Hamid mengarahkan ke kanan dan kiri pesawat-pesawat Jepang dan saling ditabrakkan.

Ada keanehan tersendiri pada makam Habib Hamid. Hal itu terkait tumbuhnya tanah di atas makam Habib Hamid. Namun tak ada yang bisa menjelaskan. Apalagi dari makam tersebut sering muncul bau wangi.

Syarifah Khadijah juga menyebutkan mengenai sebutan "Basirih". Sebutan itu diambil dari kata sirih. Di mana rumah yang ditempatinya saat ini bersama Habib Hamid dulunya banyak ditumbuhi pohon sirih dan sebagai pusat jual beli sirih.

Adapun mengenai enam kubah di atas makam diusulkan oleh sepupu Habib Hamid yang bernama Gusti Muhamad Said. Enam kubah itu bisa diartikan sebagai rukun iman agar umat senantiasa ingat kan hal itu. Kubah tersebut didirikan tak lama setelah Habib Hamid Basirih meninggal.

Salah seorang ulama Banjar, Abah Guru Zuhdi berkata, “Orang Banjar, sebelum ziarah keluar daerah, ziarahi dulu Habib Basirih karena beliau adalah kuncinya Banjar, seperti sebelum kita ziarah ke makam Rasulullah SAW di Madinah, ziarahi dulu kubur Syekh Samman Almadani, dan seperti kita ziarah ke pulau jawa, ziarahi dulu Sunan Bonang di Tuban."


source : jejakrekam, suaraborneo
Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan