Riwayat Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari

Syekh Muhammad Ali bin Abdullah Al Banjari

Syekh Muhammad Ali bin Abdullah bin Mahmud bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau lebih dikenal dengan Syekh Ali Al Banjari adalah seorang ulama keturunan Banjar yang juga merupakan Mursyid dari Tarekat Sammaniyah. Beliau dilahirkan di Makkah Al Mukarromah pada tahun 1285 Hijriyah atau 1868 Masehi.

Ayah Syekh Ali yakni Syekh Abdullah bin Mahmud Al Banjari merupakan ulama karismatik dan disegani di Makkah Al Mukarromah. Beliau mendapat julukan Syekh Abdullah Wujud dikarenakan saat berdzikir, tubuh beliau tidak lagi terlihat, hanya pakaian dan sorbannya saja yang nampak.

Sejak kecil hingga tumbuh dewasa, Syekh Ali hidup di dalam keluarga yang menjunjung tinggi ilmu agama dan berada di kalangan orang-orang sholeh. Sampai beliau mewarisi kecintaan pada ilmu agama sebagaimana ayah, kakek, dan datuknya yang lebih dulu menjadi ulama besar di zamannya.
Syekh Ali bertekad untuk tidak menjadi pemutus “nasab emas” keilmuan para leluhurnya, beliau memiliki keinginan kuat menimba ilmu kepada banyak ulama. Di antara ilmu yang beliau pelajari dan Guru-gurunya adalah
1. Ilmu Nahwu, Shorof, dan Fiqih, Syekh Ali belajar kepada Syekh Abu Bakar Syatha, Syekh Said Yamani, dan Syekh Mahfuz Termas (Ulama Haramain dari Jawa).
2. Ilmu Hadits, Guru beliau adalah Syekh Said Yamani, Sayyid Husein bin Muhammad Al Habsyi, Habib Ahmad bin Hasan Assegaf, Mufti Abid bin Husein bin Ibrahim Al Makki.
3. Ilmu Falaq, beliau belajar kepada Syekh Yusuf Al Khaiyat.
4. Ilmu Tafsir, Guru beliau adalah Sayyid Abu Bakar Syatha.
5. Ijazah Tarekat Sammaniyah kepada Syekh Muhammad Zainuddin As Sumbawi.

Syekh Ali Menjadi Juru Tulis
Guru dari Syekh Ali Al Banjari yakni Sayyid Abu Bakar Syatha adalah salah satu ulama besar bermadzhab Syafi’i yang hidup pada pada periode akhir abad ke-13 H dan awal abad ke-14 H. Saat itu Sayyid Abu Bakar Syatha mengajar kitab syarah Fathul Mu’in karya Al 'Allamah Syekh Zainuddin Al Malibari di Masjidil Haram.

Selama mengajar Kitab Fathul Mu’in, Sayyid Abu Bakar Syatha menulis catatan sebagai penjelasan dari kalimat-kalimat yang terdapat dalam Kitab Fathul Mu’in. Catatan-catatan tersebut kemudian diminta untuk dikumpulkan oleh para sahabat beliau, yang nantinya akan dijadikan sebuah kitab (hasyiyah) untuk memahami Kitab Fathul Mu’in.

Saat itu, diantara murid-murid Sayyid Abu Bakar Syatha yang paling menonjol adalah Syekh Ali Al Banjari. Karena kecakapannya dalam ilmu Fiqih, membuat Sayyid Abu Bakar Syatha menunjuk Syekh Ali sebagai katib (juru tulis) kepercayaannya saat mengarang kitab. Salah satu kitab yang ditulis Syekh Ali adalah Kitab ‘Ianah Ath-Thalibin, syarah dari Kitab Fathul Mu’in karya Al 'Allamah Syekh Zainuddin Al Malibari.

Kitab ‘Ianah Ath-Thalibin merupakan tulisan bermodel hasyiyah yaitu berbentuk perluasan penjelasan dari tulisan terdahulu yang lebih ringkas. Kitab tersebut selesai ditulis pada Hari Rabu ba’da Ashar, 27 Jumadil al-Tsani Tahun 1298 H.

Kitab I’anah Ath-Thalibin memiliki kelebihan sebagai Fiqih Mutaakhkhirin yang lebih aktual dan kontekstual, karena kitab itu memuat ragam pendapat yang diusung ulama-ulama mutaakhkhirin seperti Al-Imam An-Nawawi, Ibnu Hajar dan banyak lainnya.

Adapun rujukan yang diambil dari penyusunan kitab ini adalah kitab-kitab Fiqih Syafi’i Mutaakhkhirin diantaranya Tuhfah al-Muhtaj, Fath al-Jawad Syarh al-Irsyad, al-Nihayah, Syarh al-Raudh, Syarh al-Manhaj, Hawasyi Ibnu al-Qasim, Hawasyi Syekh ‘Ali Syibran al-Malusi, Hawasyi al-Bujairumy.

Menjadi Mursyid Tarekat Sammaniyah
Di bidang Tasawuf, Syekh Ali Al Banjari mengambil ijazah Tarekat Sammaniyah kepada Syekh Zainuddin As Sumbawi, hingga menjadi mursyid dalam tarekat tersebut. Hal tersebut diketahui dari catatan silsilah masyaikh pada Tarekat Sammaniyah yang diantaranya terdapat nama beliau.

Tarekat Sammaniyah merupakan tarekat yang didirikan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Samman Al-Madani. Salah satu murid Syekh Muhammad Samman adalah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau masyhur dengan sebutan Datu Kalampayan. Beliaulah yang membawa ajaran tarekat ini ke Tanah Banjar dan kemudian mengijazahkannya kepada keluarga serta pengikut beliau. Dari keluarga dan pengikut beliau, ajaran tarekat tersebut berkembang hingga sekarang.

Selain itu, dari keturunan Datu Kalampayan yang juga sebagai Mursyid Tarekat Sammaniyah yang masyhur adalah Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul. Berikut adalah silsilah sanad Tarekat Sammaniyah :
Syekh Muhammad bin Abdul Karim As Samman Al Madani, Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari, Syekh Syihabuddin Al Banjari, Syekh Nawawi bin Umar Al Bantani, Syekh Muhammad Zainuddin bin Badawi As Sumbawi, Syekh Muhammad Ali bin Abdullah Al Banjari, Syekh Muhammad Syarwani bin Haji Abdan Al Banjari, Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari.

Mengajar di Masjidil Haram
Saat para guru menilai Syekh Ali Al Banjari sudah mumpuni di bidang keilmuan, maka beliau diizinkan mengajar ilmu Nahwu, Shorof, dan Fiqih Madzhab Syafi’i di Masjidil Haram.

Rumah beliau yang berada di Syamiyah, Jabal Hindi, sering kedatangan para pencari ilmu untuk belajar kepada beliau. Apalagi ketika momen Ibadah Haji, banyak umat yang berbondong-bondong untuk menimba ilmu kepada para ulama di Tanah Haram termasuk kepada Syekh Ali Al Banjari.
Diantara murid-murid Syekh Ali Al Banjari yang berasal dari Indonesia khususnya Banjar adalah KH. Zainal Ilmi (Dalam Pagar), Syekh Sya’rani Arif (Kampung Melayu), Syekh Muhammad Syarwani Abdan (Guru Bangil, Pasuruan), Syekh Seman bin Haji Mulya (Keraton), Syekh Hasyim Mukhtar, Syekh Nasrun Thohir, Syekh Nawawi Marfu’, Syekh Abdul Karim bin Muhammad Amin Al Banjari (wafat di Makkah).

Berhenti Mengajar dan Perlawanan terhadap Wahabi
Sekian lama Syekh Ali Al Banjari mengajar di Masjidil Haram, tiba-tiba Saudi Arabia dilanda pergolakan. Terjadi perang antara pihak Syarif Husein (Turki Usmani) dengan Muhammad Su’ud bin Abdul Aziz (Wahabi).

Perang tersebut tak hanya sekedar perebutan wilayah, tapi juga menyangkut keyakinan beragama. Pihak Muhammad Su’ud yang membawa keyakinan Wahabi membuat “gaduh” di Tanah Haram. Para ulama Ahlussunnah wal jama'ah ketika itu dipanggil, termasuk Syekh Ali Al Banjari.

Terjadilah perdebatan sengit antara Syekh Ali dengan ulama wahabi mengenai firman Allah yang berbunyi, “Yadullah fauqa aidihim”(Al Fath ayat 10). Wahabi berpandangan lafadz “Yad” disana adalah tangan, sedangkan Syekh Ali Al Banjari dengan tegas tidak menerima pandangan Mujassimah yakni menyerupakan Tuhan dengan makhluk. Syekh Ali cenderung dengan pandapat tafsir tentang ayat tersebut yang menyatakan: "Bermula kekuasaan itu atas segala kekuasaan mereka itu". Lafadz “Yad” dimaknai Qudrat. Akhirnya Syekh Ali Al Banjari memenangkan perdebatan itu. Sehingga, beliau yang sebenarnya akan dipancung, tidak jadi dilaksanakan.

Dalam masa peperangan ketika itu, Syekh Ali Al Banjari menitipkan anaknya Husein Ali kepada Syekh Muhammad Kasyful Anwar Al Banjari agar dibawa ke tanah Banjar. Syekh Kasyful Anwar adalah sahabat Syekh Ali saat menimba ilmu kepada Sayyid Abu Bakar Syatha.

Sejak adanya perpecahan akidah itu, Syekh Ali Al Banjari tidak lagi mengajar di Masjidil Haram. Beliau hanya menerima orang-orang yang datang menemuinya. Baik yang menimba ilmu atau orang yang datang meminta doa. Nama besar Syekh Ali Al Banjari tidak hanya karena ketinggian ilmunya, tapi juga kemustajaban doanya sehingga banyak orang mendatangi beliau untuk didoakan.

Sebagaimana manusia lazimnya yang juga mengalami kematian, Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari wafat di Makkah Al Mukarromah pada Kamis malam (Malam Jum’at) 12 Dzulhijjah 1307 Hijriyah dan dimakamkan pekuburan Ma’la, Makkah. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.


source : Ustadz Muhammad Husein Ali bin KH Husin Ali bin Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari (Cucu Syekh Ali di Martapura), Muhammad Bulkini ibnu syaifuddin
Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan