Manakib Syekh Samman Al-Madani


Beliau bergelar dan bernama Ghauts Az-Zaman Al-Waliy Quthb Al-Akwan Asy-Syekh Muhammad bin Abdul Karim Al-Qodiri Al-Hasani As-Samman Al-Madani. Beliau merupakan keturunan dari Sayyidina Ali bin Abi Tahlib dengan Sayyidah Fatimah Az-Zahra binti Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW melalui putranya yang bernama Sayyidina Hasan.

Syekh Samman Al-Madani dilahirkan di Madinah pada tahun 1132 H atau bertepatan tahun 1718 Masehi. Beliau adalah ulama besar dan wali agung dari kalangan Ahlul Bait Nabi Muhammad SAW yang beraqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dengan Imam Asy’ari dalam bidang aqidah, fiqihnya bermadzhab dari Imam Syafi’i, dan tasawufnya dari Al-Imam Al-Quthbul 'Ilmi Syekh Junaidi Al-Baghdadi.

Syekh Samman Al-Madani tinggal di Madinah dan menempati rumah yang dahulunya pernah ditinggali Khalifah Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA yaitu seorang Shiddiq yang paling agung yang tiada bandingannya, kecuali para Nabi dan Rasul.

Gelar As-Samman (pedagang mentega) diberikan oleh para muridnya. Ketika mereka
kehabisan makanan, Syekh Samman menurunkan sebuah ember ke dalam sumur, kemudian ember tersebut muncul dengan dipenuhi mentega.

Diantara gelar-gelar yang ditujukan kepada beliau yaitu :
Al-Waliy Kamil Mukammil (seorang wali yang sempurna lagi menyempurnakan), Khatam Ahl al-‘Irfan (Penutup para ahli makrifat), Ustadz al-A’zham (Guru besar), Quthb Al-Akwan (Poros alam), Gawts Az-Zaman (Penolong zaman), al-‘Arif billah (Orang yang kenal dengan Allah), Sayyidi Syekh Muhammad Samman Al-Madani.

Dalam bidang pendidikannya, Syekh Muhammad Samman menimba ilmu dalam bidang hukum Islam kepada Syekh Muhammad Al-Daqqaq, Sayyid ‘Ali Al-‘Aththar, Syekh ‘Ali al-Kurdi, Syekh ‘Abd al-Wahhab at-Thanthawi (di Makkah) dan Syekh Said Hilal al-Makki.
Guru dalam bidang ilmu Hadits yaitu Syekh Muhammad Hayyat, yang merupakan penganut Tarekat Naqsabandiyah.
Guru-guru beliau yang lain seperti Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi (1125-1194 H/1713-1780 M), Syekh Abu Thahir al-Kurani, Syekh ‘Abdullah Al-Bashri dan Syekh Musthafa bin Kamaludin Al-Bakri (1099-1163 H/1688-1749 M).
Syekh Musthafa bin Kamaludin Al-Bakri ialah guru pada bidang tasawuf dan tauhid. Beliau berasal dari Damaskus, menetap di Madinah dan wafat di Kairo, Mesir tahun 1749. Beliau seorang ulama yang produktif dan juga seorang Mursyid tarekat Khalwatiyyah. Beliau berasal dari keturunan Sayyidina Abu Bakar Shiddiq RA dari pihak ayah dan dari pihak ibu keturunan Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib.
Ada dua Syaikh Tarikat Khalwatiyah yang juga menjadi guru dari Syekh Muhammad Samman Al-Madani yaitu Syekh Muhammad bin Salim Al-Hifnawi dan Syekh Muhammad Al-Kurdi, namun pengaruh dari kedua guru ini tidak nampak pada karya-karya Syekh Muhammad Samman Al-Madani.

Derajat kewalian Syekh Samman Al-Madani adalah seorang Khatam Al-Auliya' (pamungkas para wali) yakni Ghauts Zaman dan wali Quthb Al-Akwan, yaitu maqam kewalian yang hanya bisa dicapai oleh para sadah yang dalam tiap periode 200 tahun sekali. Dan beliau adalah Khalifah Rasulullah pada zamannya.

Syekh Samman memiliki banyak karomah yang banyak sekali, hingga sampai saat ini hal itu masih ada. Salah satu karamah beliau adalah pangkat kewaliannya yang tinggi dan mendapat haq memberi syafaat 70.000 umat manusia masuk surga tanpa hisab.

Kemudian diantara keagungan dan kemuliaan beliau adalah semua murid beliau yang jumlahnya ribuan menempati maqam Quthb. Syekh Samman Al-Madani menempati kemuliaan tersebut karena beliau berada pada jalan Rasulullah SAW dan para sahabatnya, yakni Ahlussunnah wal Jama’ah.

Demikian lah kesuksesan Syekh Samman Al-Madani dalam mendidik murid-muridnya sehingga mereka yang jumlahnya ribuan dapat menempati maqam Quthb. Apalagi Rasulullah SAW dengan para sahabatnya, pastinya maqam kewaliannya sangat agung, dikarenakan mereka mendapat keistimewaan menyertai kekasih-Nya (Muhammad SAW), dan apa-apa yang menjadi Nubuwat Rasulullah SAW dalam kitab-kitab terdahulu, maka pasti menceritakan dan memuji para Qudus agung yang menyertai kekasih-Nya, yakni para sahabat Rasulullah SAW.

Adapun diantara murid-murid Syekh Samman Al-Madani yang berasal dari Indonesia yaitu:
1.      Quthb az-Zaman Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari
2.      Quthb al-Maktum Syekh Abul Abbas Ahmad at-Tijani (pendiri tarekat Tijaniyah)
3.      Al-Quthb Syekh Abdussamad Al-Palimbani
4.      Al-Quthb Syekh Abdul Wahab Bugis (menantu Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari)
5.      Al-Quthb Syekh Abdurrahman Al-Batawi (kakek Mufti betawi dari pihak ibu Habib Utsman Betawi)
6.      Al-Quthb Syekh Dawud Al-Fathani, dan lain-lain.

Tarekat Sammaniyah
Syekh Samman Al-Madani adalah pendiri tarekat Sammaniyah yang telah dikenal oleh masyarakat muslim dunia. Penamaan tarikat ini dinisbahkan kepada nama beliau oleh para muridnya. Sedangkan Syekh Samman Al-Madani menamai tarekat yang didirikannya ini dengan al-Muhammadiyah yang berarti jalan Nabi Muhammad SAW.

Pada mulanya, Syekh Samman Al-Madani belajar Tarekat Khalwatiyah di Damaskus, Syiria. Lama-kelamaan, ia mulai membuka pengajian yang berisi teknik dzikir, wirid, dan ajaran tasawuf lainnya. Beliau menyusun cara pendekatan diri kepada Allah SWT yang akhirnya disebut sebagai Tarekat Sammaniyah. Sehingga, ada yang mengatakan bahwa Tarekat Sammaniyah adalah cabang dari Tarekat Khalwatiyyah atau bisa disebut juga Khalwatiyyah-Sammaniyah. Syekh Samman juga menyusun dan mengembangkan salah satu bentuk dzikir, yang disebut Ratib Samman.

Dan di Indonesia, Tarekat Sammaniyah termasuk mu'tabaroh (masyhur) yang sudah terkemuka dan diakui keabsahannya di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU).

Semangat beliau dalam mencari ilmu sangat tinggi. Syekh Samman rela menghabiskan usianya dengan melakukan berbagai perjalanan. Beberapa negeri yang pernah ia singgahi untuk menimba ilmu di antaranya adalah Iran, Syam, Hijaz, Transoxania (Asia Tengah), dan Mesir.

Ajaran tarekat Sammaniyah merujuk pada kitab Syekh Samman Al-Madani dengan judul an-Nafahat al-Ilahiyyah. Kitab ini terdiri delapan bab yaitu taubat, baiat, dzikir, khalwat, penyakit hati, persaudaraan, adab kepada guru, wali dan penutup tentang nasihat kepada ikhwan.

Dzikir Sammaniyah adalah jahr (keras) dengan lafadz nafi isbat, yaitu La ilaha illa Allah. Lafadz yang afdhal sesuai dengan hadits Afdhal adz-dzikir La Ilaha Illal-Lah. Adapun dalil keutamaan dzikir jahr, yaitu riwayat Ibnu Abbas bahwa masa Nabi SAW dzikir dilaksanakan setelah jamaah selesai salat fardhu.

Manfaat dzikir jahr antara lain menampakkan syi’ar Islam, memberi berkah pada pendengarnya, menghapus dosanya dan menumbuhkan iman. Dzikir jahr bagaikan tukang besi yang memukul palunya untuk menghilangkan karat yang melengket pada besi. Begitu pula orang yang berdzikir jahr dapat menghilangkan dosa yang melekat dalam hati.

Tak hanya sebagai pencari ilmu dan pendakwah saja, Syekh Samman Al-Madani juga mempunyai karya tulis/kitab yang banyak dikenal para salik. Diantaranya adalah :
1. An-Nafahat Ilahiyyah
2. Al-Insab
3. Mu'jamul Mashayikh
4. Tazyilul Tarikh Baghdad
5. Tarikh Marv

Wafat
Setelah mengalami sakit selama 17 hari, Syekh Samman Al-Madani wafat di Madinah pada hari Rabu, 2 Dzulhijjah 1189 H (1775 M) dalam usia 57 tahun dan dimakamkan di pemakaman Baqi El-Barkah. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat pada beliau dan orang-orang yang menjadi pengikutnya di dunia maupun akhirat. Amin
Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan