Kalam Hikmah Syekh Jalaludin rumi

Paint Syekh Jalaludin Rumi

KALAM HIKMAH SYEKH JALALUDIN RUMI
1. Orientasi kepada indera dalam menetapkan segala hakekat keagamaan adalah yang dipelopori kelompok Mu’tazilah. Mereka merupakan para budak yang tunduk pada panca indera. Mereka menyangka dirinya termasuk golongan  Ahlusunnah, tetapi sebenarnya Ahlusunnah tidak terikat pada indera-indera dan tidak mau juga memanjakannya. Bahwasannya dibalik sana terdapat berbagai indera batiniyah. Dengan gagasan seperti ini, dalam diri manusia tidak hanya terdapat indera lahiriyah saja. Ibaratnya seperti pasir dan tanah liat yang menutupi emas murni. Pada hakekatnya daya dan kekuatan indera lahiriyah terkait dengan badan dan rupa. Sedangkan indera batiniyah, daya dan kekuatan yang berkaitan dengan jiwa dan roh. Yang pertama merupakan kegelapan yang tercipta oleh jisim, dan yang kedua adalah cahaya yang tercipta oleh jiwa dan hati.

2. Orang-orang yang berorientasi pada indera lahiriah belaka, sambil mengingkari daripada itu, mereka sesungguhnya telah menyia-nyiakan indera batin sendiri. Mereka telah mengabaikan daya dan anugerah yang diberikan Allah SWT kepadanya. Akibatnya mereka menjadi sekelompok orang buta yang hanya bisa berjalan apabila memakai tongkat atau dituntun oleh penuntunnya. Janganlah heran jika banyak hakekat kebenaran yang tidak sempat mereka ketahui.

3. Telah cukup lama aku menggunakan akal yang terbatas itu. Ternyata yang dapat dilihat cuma hal-hal yang bisa diindera belaka, sedang yang dapat diperkirakan hanya yang tampak saja. Banyak orang yang menanamkannya sebagai akal bijaksana yang jauh jarak jangkauannya. Siapapun yang mengikuti jejakku persis seperti yang aku lakukan, sebaiknya ia keluarkan saja semua ikatan dan batas-batasnya.

4. Ucapan orang Taqlid yang mengekor begitu saja ketika menggunakan dalil-dalil filsafat, dan selalu mengulang-ulang seperti burung beo, sesunguhnya sesuatu omongan belaka tidak berjiwa dan tidak hidup, tidak ada manfaat dan pengaruhnya sama sekali. Betapa tidak? Ucapan mereka bersumber dari jasad orang mati. Dan bagaimana ia dapat membuahkan hasil dan mendatangkan pengaruh?

5. Setiap bangunan tentu didahului dengan perusakan, perubahan, dan pengosongan. Dan setiap penetapan pasti diawali dengan penghapusan. Jika seseorang hendak mendapatkan air dari dalam tanah, ia harus menggali lebih dulu. Seorang petani yang hendak menanam suatu tanaman, ia harus memilih tanah yang tidak ditumbuhi tanaman sama sekali. Bila perusakan lebih sempurna dan penghapusan lebih kuat, tentu penetapan akan lebih banyak dan lebih kekal.

6. Sesungguhnya kemiskinan yang lebih sempurna itu lebih mendorong lahirnya sifat kedermawanan. Orang yang dermawan akan lunak hatinya sehingga hati mereka tergerak untuk melakukan sesuatu membantu orang miskin yang tidak memiliki apapun.

7. Sesungguhnya apa yang termaktub dalam Al-Qur’an adalah perintah, larangan dan ancaman. Tetnunya kita tidak pernah mendengar ada orang waras atau normal yang memerintah batu atau melarang besi.

8. Apabila suatu waktu ada sebatang pohon roboh menimpa engkau, sehingga engkau berdarah dan terluka parah, apakah engkau akan melampiaskan kemarahan pada pohon tersebut? Ataukah engkau akan mengatakan, “Mengapa engkau mencelakakan aku?” Tentu tidak bukan? Begitu pula jika suatu saat banjir datang, lalu menghanyutkan semua harta benda dan barang milikmu, atau angin puyuh menyapu rumahmu, apakah engkau akan marah kepada banjir atau angin serta mengutuk dan mencela keduanya?

9. Sesungguhnya Sunnah Allah yang berlaku dan kebiasaan yang lumrah ialah timbulnya akibat dari sebab, sehingga dengan demikian seseorang akan mengetahui betapa pentingnya berusaha dan berjuang mendatangi rumah-rumah dari pintu ke pintu yang sewajarnya dan mencari sesuatu dari sumbernya.

10. Kalau seandainya kehidupan sosial dalam Islam tidak dituntut dan diutamakan, tentu tidak ada perintah melakukan Sholat berjamaah dan Sholat Jum’at. Maka tidak ada pula istilah “memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar (amar ma’ruf nahi munkar).

11. Berusahalah lalu bertawakkal kepada Allah sepenuhnya.

12. Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan kepada manusia beberapa anggota badan, memberikan kekuatan dan potensi. Itu menunjukkan bahwasannya Allah SWT menghendaki mereka supaya berusaha dan berjuang. Sama halnya dengan seorang majikan yang memberikan sebuah kapak atau cangkul kepada hambanya. Tentunya dengan maksud agar hambanya tadi menggali tanah atau memecah batu. Begitu pula Allah SWT telah memberi kita tangan yang bisa bekerja, lengan yang kuat, kaki yang dapat berjalan dan kekuatan yang cukup. Dengan semua itu Allah SWT menghendaki agar kita menggunakan kekuatan tersebut, mau tekun berusaha dan berjuang dalam kehidupan ini, mencari rezeki dengan cara yang baik dan memeras keringat. Lalu bertawakkal kepada Allah SWT supaya perjuangan dan usaha kita tidak sia-sia. Kemudian mengenai hasilnya kita percayakan saja kepada Allah SWT. Sebab pada hakekatnya usaha adalah manifestasi rasa syukur kepada-Nya, sedangkan bermalas-malasan sama dengan mengingkari nikmat tersebut.

13. Sesungguhnya darah para syahid lebih utama dari air yang suci. Segala kesalahannya akan dilebur, jika ia mempunyai kesalahan.

14. Aku seringkali menyaksikan orang yang pandai berenang, tapi ternyata tenggelam di lautan yang dalam. Sedangkan aku tak pernah melihat perahu iman dan cinta yang karam.

15. Sesungguhnya hati adalah negeri makmur dan sentosa, benteng kokoh yang terjaga, serta pertamanan yang diberkahi dan dipenuhi nikmat. Di sana semua jenis buah-buahan bisa didapat setiap saat dengan izin Tuhan.

16. Kebun-kebun alami itu lambat berkembang dan cepat musnah, sedangkan pertamanan di hati cepat berkembang dan lestari. Pertamanan di jisim dalam waktu yang tidak lama akan kering kerontang dan gersang, sehingga berteriaklah pemiliknya. Adapun pertamanan hati akan selalu subur dan pepohonannya senantiasa berbuah, sehingga pemiliknya akan berkata, “Alangkah senangnya!”

17. Peliharalah dan perhatikan hati, agar engkau tetap muda selamanya. Dari wajah engkau akan terpancar cahaya, sehingga membuatnya selalu cemerlang.

18. Perut dan budak materi merupakan tirai tebal yang menghalangi hamba dengan Tuhan. Apabila tirai itu diangkat, maka antara engkau dan Dia tidak ada batas lagi. Oleh sebab itu tariklah batas-batas perut dan majulah ke hatimu, niscaya akan datang penghormatan Dzat Tuhan Yang Maha Pengasih tanpa ada lagi tabir penghalang.

19. Sesungguhnya manusia adalah pantulan bagi sifat-sifat Allah. Manusia adalah cermin yang jujur, yang didalamnya akan tampak tanda-tanda kekuasaan-Nya.

20. Segala kesempurnaan dan keindahan yang terlihat pada diri manusia merupakan pantulan sifat-sifat Allah, sebagaimana membiaskan sinar bulan yang terang benderang pada sungai yang bersih. Manusia itu bagai air jernih yang di dalamnya terlihat sifat-sifat Allah. Di dalamnya Ilmu dan Keadilan serta Kelembutan Allah terpantul jelas, sebagaimana memantulnya cahaya bintang kejora pada yang mengalir.

21. Semalam aku melihat seorang tua mengitari kota. Dia membawa suluh, seolah-olah mencari sesuatu. Kemudian aku bertanya, “Tuan sedang mencari apa?” Dia menjawab, “Aku sudah muak bergaul dengan serigala dan ternak-ternak. Aku merasa jemu. Lalu aku keluar untuk mencari raksasa dan singa yang buas. Sesak dadaku kalau harus bergaul dengan para pemalas dan orang-orang kerdil yang selalu kutemukan di sekelilingku.” Aku berkata lagi, “Apa yang tuan cari itu jelas tidak mudah didapat. Saya sendiri telah lama mencarinya, tapi belum juga menemukannya.” Dia berkata lagi, “Aku memang suka mencari orang yang tidak mudah ditemukan.”
Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan