Ketika Syekh Junaidi digoda Wanita Cantik


Ibarat pepatah, semakin tinggi pohon, maka semakin kencang angin menerpanya. Hal itu juga dialami oleh Syekh Junaidi Al-Bagdadi. Beliau merupakan ulama ahli tasawuf yang memiliki banyak murid dan pengaruh yang sangat luas. Namun, kepopuleran beliau menjadikan sebagian orang menjadi benci, hasut dan ingin menjatuhkannya. Seringkali orang yang membencinya melancarkan serangan agar Syekh Junaidi Al-Bagdadi terjatuh ke jurang dosa. Para pembenci itu menyebarkan fitnah agar pengaruh dan kharisma Syekh Junaidi Al-Bagdadi runtuh. Selain itu, mereka juga menghasut khalifah pada masa itu agar membenci Syekh Junaidi Al-Bagdadi. Namun, usaha yang mereka lakukan untuk menjatuhkan Syekh Junaidi Al-Bagdadi menjadi sia-sia.

Suatu hari, salah satu khalifah yang memusuhi Syekh Junaidi Al-Bagdadi menyuruh seorang wanita cantik untuk merayu Syekh Junaidi Al-Bagdadi. Wanita itu mendekati Syekh Junaidi Al-Bagdadi yang sedang khusyuk beribadah dan mengajak beliau untuk berzina.

"Sudikah engkau menikmati tubuhku?" kata wanita itu tanpa basa-basi. "Aku masih muda dan cantik. Banyak laki-laki yang menginginkanku. Tapi aku tidak mau. Aku hanya mau denganmu, wahai Syekh Junaidi."

Pun begitu manis rayuannya, wanita tersebut hanya mendapatkan kekecewaan karena Syekh Junaidi tak merespon sedikitpun rayuan wanita itu. Syekh Junaidi terus meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar terhindar dari godaan wanita itu. Beliau tidak suka ibadahnya diganggu oleh siapapun.

Syekh Junaidi Al-Bagdadi kemudian melepaskan satu hembusan nafas ke wajah wanita itu sambil mengucap “Lailahailallah”. Dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, wanita itu jatuh ke lantai dan meninggal.

Maka geegerlah masyarakat akan berita kematian wanita yang merayu Syekh Junaidi Al-Bagdadi itu. Dan berita tersebut sampai didengar khalifah yang menyuruh wanita itu. Sang khalifah kemudian mendatangi Syekh Junaidi Al-Bagdadi dan menuduh beliau telah membunuh wanita itu. Orang-orang juga ikut menuduh Syekh Junaidi Al-Bagdadi telah melakukan perbuatan keji.

"Wahai Syekh Junaidi Al-Bagdadi," kata khalifah. Mengapa engkau membunuh wanita ini?"

"Saya tidak membunuhya.” kata Syekh Junaidi. Justru saya ingin bertanya, Tuan sebagai pemimpin yang seharusnya melindungi kami, mengapa berusaha untuk meruntuhkan amalan yang telah saya lakukan selama 40 tahun dengan mengirim wanita ini untuk merayu saya.

Sontak saja khalifah kaget dan tidak bisa menjawab pertanyaan Syekh Junaidi. "Bukankah engkau yang telah menyuruh wanita itu untuk merayuk?” lanjut Syekh Junaidi Al-Bagdadi.

Khalifah kelihatan bingung dan hendak mengingkari, namun ia sudah kalah bukti. Orang-orang kemudian menyalahkan Khalifah. Maka selamatlah Syekh Junaidi Al-Bagdadi dari fitnah musuh-musuh yang ingin menjatuhkannya hingga hari wafatnya pada tahun 297 Hijriyah.

Saat salah satu sahabat hendak menalqin jenazah Syekh Junaidi Al-Bagdadi, tiba-tiba Syekh Junaidi Al-Bagdadi  membuka matanya dan berkata, "Demi Allah, aku tidak pernah melupakan kalimat itu sejak lidahku pandai berkata-kata!"

Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan