Akibat Mencela

Pada suatu hari, seorang laki-laki pedagang karpet menawarkan karpetnya kepada orang-orang yang lewat di jalan dekat pasar. Orang-orang melihat karpet yang dijual pedagang tersebut. Tak lama kemudian, datang si Fulan yang ingin membeli karpet. 

“Kenapa kau jual karpet yang buruk seperti ini?" kata si Fulan pada pedagang itu. "Karpet ini kasar dan sangat usang. Berapa harga kau minta?"

"500 perak saja," kata si pedagang.

"500?" kata si Fulan dengan herannya. "Kau suruh aku membeli karpet kasar dan buruk ini 500 perak? Ada-ada saja kau ini. Karpet seperti ini kebanyakan dijual dengan harga 5 perak. Ini aku bayar!" kata si Fulan sambil memberikan uang ke pedagang itu. 

Pedagang karpet itu tidak berdaya. Ia hanya bisa menghela nafas dan menerima uang penjualan karpet yang sangat kecil dan kemudian karpetnya dibawa pergi oleh si Fulan. 

Di tempat lain, si Fulan menawarkan karpet yang dibelinya dari pedagang itu kepada banyak orang. Dengan berteriak ia menjajakan barang dagangannya. 

"Karpet ini lembut bagai sutra, tak ada yang seperti ini!" kata si Fulan kepada calon pembeli. "Harganya murah, hanya 1000 perak! Ayo, cepat beli karpet bagus ini! Kalian akan beruntung membelinya." 

Saat itu, seorang sufi bernama Athar An-Nisaburi sedang berjalan-jalan di sekitar tempat Fulan menjual karpetnya. Mendengar si Fulan menawarkan karpetnya yang dibeli dari pedagang sebelumnya, Athar An-Nisaburi berhenti dan melihat-lihat karpet itu. 

"Tuan, bisakah engkau masukkan aku ke dalam kotak ajaibmu?" kata Athar An-Nisaburi.

"Kotak ajaib?" kata si Fulan. "Kotak ajaib yang mana? Aku tidak punya.”

"Bukankah engkau punya kotak ajaib yang dapat mengubah karpet kasar dan buruk menjadi karpet yang lembut bagai sutra?" kata Athar.

Si Fulan terkejut dan marah mendengar perkataan Athar tersebut.

"Siapa yang bilang karpet ini kasar dan buruk? Justru karpet ini paling bagus di antara karpet-karpet lainnya."

Athar kemudian berkata, "Tetapi, engkau membeli karpet buruk itu dari pedagang yang lain dengan harga 5 perak, bukan?"

"Siapa bilang karpet istimewa ini seharga 5 perak? 1000 perak!" bantah si Fulan.

"Engkau sepertinya lupa. Namun, engkau tak akan lupa bahwa kepadaku-lah engkau membeli karpet buruk ini seharga 5 perak!" kata Athar An-Nisaburi sambil mengeluarkan uang 5 perak yang diberikan si Fulan untuk membayar karpet itu. 

Si Fulan tak dapat berkata-kata lagi. Dia lupa kepada siapa dia membeli. Dia lupa telah mencela barang dagangan orang lain, namun kemudian memuji-mujinya setelah menjadi barang dagangannya. 

Orang-orang yang akan membeli karpet itu tersadar bahwa si Fulan yang menjual karpet itu seorang penipu. la telah menipu Athar An-Nisaburi dan juga akan menipu orang lain lagi. 

Perlu kita ketahui bahwa mencela adalah perbuatan buruk. Ketika kita mencela orang lain, maka secara langsung kita memuji-muji diri sendiri. Menganggap diri kita lebih baik dari orang lain dan kemudian membangga-banggakannya, lalu menjadi bangga dengan diri sendiri. 

Akibat dari mencela orang lain, seringkali kita melakukan dosa-dosa selanjutnya, yaitu ujub, riya', dan juga takabur. Dari kisah di atas dapat kita ambil hikmah bahwa sebuah dosa dapat membuat pelakunya melakukan dosa-dosa lainnya. Sehingga menjadikan dosanya bertumpuk.

Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan