Tertipu Penampilan



Alkisah, seorang pengembara sufi mengembara dari satu tempat ke tempat lain dengan menunggangi seekor keledai. Sufi itu mengenakan pakaian yang sangat sederhana. Hingga malam hari, ia singgah di suatu perkumpulan sufi yang disebut Khanqah untuk beristirahat.

Si Sufi itu mengikat tali kekang keledainya di satu sudut dan kemudian mengamanatkan kepada penjaga untuk mengawasinya. Ia kemudian bergabung dengan sufi-sufi lainnya. Saat malam kian larut, makan malam dihidangkan dengan menu ala kadarnya. Namun, tiba-tiba si Sufi teringat keledai yang ia titipkan. Segera saja ia mendatangi keledainya dan bertanya pada penjaga.

"Apakah engkau sudah memberikan rumput kepada keledaiku?" tanya si Sufi kepada penjaga.

Penjaga menjawab, "Laa haula wa laa quwwata illa billah, Tuan.”

"Bagaimana kenyamanan tempat keledainya?" tanya si Sufi lebih lanjut.

"Apakah luka di tubuh keledai itu sudah diobati?"

"Laa haula wa laa quwwata illa billah, Tuan,” jawab si penjaga lagi.

Jawaban penjaga keledai seakan-akan bermakna bahwa ia cukup ahli menjalankan tugasnya dalam menjaga dan merawat keledai serta kuda para tamu di Khanqah.

"Tanpa kau suruh pun, aku sudah melaksanakan tugasku dengan baik. Pergilah beristirahat. Keledaimu saat ini sedang beristirahat dan berada di tempat yang nyaman," kata penjaga meyakinkan si Sufi.

Kemudian si Sufi itu kembali bergabung bersama sufi-sufi lainnya.

Sepeninggal si Sufi, penjaga itu kembali sibuk dengan pekerjaannya. Ia tak memikirkan perkataannya kepada si Sufi barusan. Dan juga tak ada rumput untuk makanan keledai yang ia siapkan.

Sementara itu, si Sufi yang kelelahan sedang tidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat keledainya berteriak ketakutan karena dikepung oleh gerombolan serigala buas. Keledai itu terjebak di lubang besar yang cukup dalam. Dalam mimpinya, si Sufi teringat akan perkataan penjaga tadi bahwa keledainya sudah diberi makanan enak, dirawat dengan baik dan ditempatkan di tempat yang nyaman.

"Sungguh tega penjaga itu membiarkan keledaiku seperti ini. Ia ingkar janji untuk merawat keledaiku dengan baik. Bukankah aku cukup ramah berbicara dengannya tadi? Ia sendiri juga ikut makan bersamaku dan bergabung dalam perkumpulan sufi dan itu berarti ia punya hati yang bersih.”

Dengan pikiran-pikiran seperti itu, si Sufi melewatkan malam hingga pagi tiba tanpa mendapat manfaat apa-apa.

Ketika hari sudah pagi, si Sufi bersiap meninggalkan tempat tersebut. Ia pergi ke tempat penitipan keledai di Khanqah. Dilihatnya si penjaga telah memasang dan mengikat pelana dan keranjang perbekalan di tubuh keledai. Tanpa bertanya lagi, si Sufi naik ke atas punggung keledai dan mulai bergerak.

Semakin lama gerakan keledai semakin lamban karena tenaganya lemah. Sebab sejak semalam ia tak diberi makan dan minum. Tubuhnya yang terluka juga tidak dirawat. Selain itu, keledai itu bermalam di tempat yang tidak nyaman, terbuka dan dingin.

Sesaat beberapa langkah, keledai itu ambruk tak sadarkan diri. Orang-orang berdatangan untuk membantu dan masing-masing bertanya dalam hati tentang apa yang membuat keledai itu pingsan.

Mereka memeriksa telinga keledai hingga mulut dan lidahnya, dan ada pula yang melihat matanya dengan seksama. Mereka ingin mengetahui penyebab pingsannya keledai. Kemudian seseorang di antara mereka berkata, "Keledai ini sakit. Namun, bukankah kemarin engkau berkata bahwa keledai ini sehat dan kuat?"

Si Sufi hanya bisa menghela napas panjang. Dia harus mengakui keledai tunggangannya memang sakit dan lemah. Ia diam beberapa saat kemudian berkata, "Beginilah jadinya keledai malang yang semalaman hanya menyantap dzikir Laa haula wa laa quwwata illa billah, bukan rumput dan jerami. Tak heran jika sekarang keledai ini jatuh tersungkur dan lemah seperti ini. Penjaga di rumah sufi hanya sibuk mengucapkan Laa haula wa laa quwwata illa billah saat kutanya apakah sudah memberi makanan pada keledai ini.”

Hati sebagian orang di Khanqah itu jauh lebih buruk dari setan. Tak ada belas kasihan dan keramahan di dalamnya. Kebohongan, penipuan dan kerakusan sudah menjadi bagian hidup mereka. Orang-orang seperti itu hanya ingin memamerkan diri dalam kemasan dzikir dan ibadah yang tak ikhlas.

Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan