Zuhud Meski Kaya

Dahulu kala, di Maroko ada seorang lelaki yang hidup sederhana, tersebutlah namanya Zahid. Ia berprofesi sebagai nelayan dengan penghasilan yang tidak seberapa. Dan ia tinggal di sebuah desa kecil. Meski miskin dan kecil pendapatannya, ia selalu menyisihkannya untuk sedekah dan menyimpan sisanya.

Hingga suatu hari, salah seorang lelaki penduduk desa tersebut akan pergi ke ibu kota untuk berbisnis. Berita lelaki yang akan pergi ke ibu kota tersebut kemudian menjadi sebuah berita besar. Hingga sampai berita itu ke telinga si Zahid. Ketika mendengarnya, Zahid segera mengunjungi lelaki itu untuk meminta bantuan.

"Saudaraku tinggal di ibu kota," kata Zahid. "Tolong sampaikan salamku dan mintalah ia untuk berdoa padaku karena ia adalah wali Allah."

"Tentu, aku akan melakukannya untukmu," jawab lelaki itu.

Zahid kemudian memberi tahu nama sang wali dan lelaki tadi pun pergi ke ibu kota untuk menyelesaikan urusan bisnisnya. Setelah selesai urusan bisnisnya, kemudian, ia mulai berkeliling kota untuk bertanya apakah ada yang mengenal nama yang diberikan oleh Zahid kepadanya.

"Apakah engkau mengenal wali fulan?" tanya lelaki itu kepada penduduk kota.

"Ya, kami mengenalnya. Rumahnya di sana," kata penduduk kota sambil menunjukkan rumah sang wali.

Lelaki itu diberi tahu bahwa wali tersebut memiliki rumah besar dan ia pun diberi petunjuk jalan menuju rumahnya.

Ketika ia melihat rumah sang wali, ia sangat terkejut. Rumahnya sangat besar dan megah, kelihatan seperti rumah anggota kerajaan. Ia sedang mencari seorang wali, seseorang yang biasanya melepaskan semua kekayaannya, merasa cukup dengan hal yang sedikit dan mendedikasikan hidupnya untuk beribadah.

Lelaki tersebut tidak yakin apakah itu rumah sang wali. Namun, ia meyakinkan dirinya untuk bertanya pada penjaga rumah.

"Apakah benar ini rumah wali fulan?" tanyannya kepada penjaga rumah.

"Benar." kata penjaga. “Tetapi beliau sedang mengunjungi istana Sultan dan akan kembali sebentar lagi."

Mendengar hal itu, lelaki itu hampir yakin bahwa orang itu pasti bukan wali yang ia cari. Sebab, seorang wali biasanya akan menjauhi semua yang berhubungan dengan kekuasaan dunia, termasuk orang yang memiliki kekuasaan.

Tapi, ia memutuskan untuk menunggu sang pemilik rumah karena ia sudah datang jauh-jauh dari desa. Ia ingin memastikan bahwa orang itu bukanlah orang yang ia cari.

Hingga sekira 1 jam kemudian, pemilik rumah datang. Terlihat ia memakai pakaian mahal, mengendarai kuda yang bagus, dan dikelilingi pelayan serta penjaga layaknya seorang raja.

Lelaki itu pun berpikir bahwa tidak mungkin orang tersebut seorang wali. Ia hampir saja berniat pulang tanpa berbicara dengan pemilik rumah itu. Tapi kemudian mengurungkan niatnya karena ia pikir si Zahid pasti kecewa jika ia tidak menyampaikan pesannya.

"Bolehkah aku bertemu pemilik rumah ini?" tanyannya pada penjaga. "Boleh, silakan. Ayo masuk, dan duduklah. Aku akan memberitahu beliau," kata penjaga dengan ramah.

Lelaki itu pun terkejut ketika ia dipersilakan masuk. Di dalam rumah ia melihat banyak benda-benda mahal dan pelayan. Ia akhirnya bertemu sang pemilik rumah dan menyampaikan pesan Zahid.

"Saya datang dari desa," katanya pada pemilik rumah. "Saya membawa pesan dari Zahid."

"Kau berasal dari desanya?" tanya pemilik rumah.

"Benar Tuan," jawab lelaki itu.

"Ketika kau pulang," kata pemilik rumah. "Tolong sampaikan beberapa hal ini pada Zahid. Pertama, sampai kapan engkau akan sibuk untuk urusan dunia? Kedua, berapa lama lagi kau akan terus mencarinya? Ketiga, kapan kau akan berhenti menginginkan hal seperti itu?"

Lelaki itu sungguh tidak paham apa yang dikatakan oleh pemilik rumah. Namun ia tidak bisa membantah apa-apa. Ia kemudian pulang dan menemui Zahid. Zahid bertanya apakah ia berhasil bertemu sang wali.

"Apakah kau berhasil menemuinya?" tanya Zahid.

"Benar." jawab lelaki itu. "Bagaimana pesanku padanya?" tanya Zahid lagi.

"Sudah aku sampaikan. Dan dia tidak menyampaikan pesan balik untukmu," kata lelaki itu karena tidak ingin menyakiti perasaan Zahid.

"Kau harus berkata yang sejujurnya!" desak Zahid.

Karena terus didesak, maka lelaki itu pun menceritakan semuanya. Mendengar ceritanya, Zahid pun menunduk dan tak bisa berkata apa-apa. Pelupuk matanya dipenuhi air mata.

"Saudaraku memang benar. Allah Subhanahu wa ta’ala telah menghilangkan keinginan duniawi dari hatinya, tapi justru memberinya semua itu. Sedangkan aku, Allah memberiku sangat sedikit, tapi aku kadang masih memikirkannya."

Kesejahteraan hidup jika hanya diukur dari materi, maka habislah umur kita untuk mengejar materi. Meski kadang kesejahteraan tidak bisa dipisahkan dari materi, tapi juga tidak bisa mengabaikan ruhani. Keduanya harus seimbang sejalan dan hanya bertujuan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Manusia berkewajiban berusaha, Allah yang akan menentukan berapa besar karunia yang harus manusia terima. Manusia tidak boleh menentukan jumlahnya apalagi memprotes nikmat yang Allah berikan dengan membanding-bandingkan amal ibadah yang dilakukan. Na'udzubillah min dzalik.

Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan