Uwais al-Qarni

Pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ada seorang pemuda sholeh yang memiliki keistimewaan. Tak sekedar sholeh dan akhlaknya baik, pemuda tersebut juga rupawan, memiliki mata biru, berambut merah, dan pundaknya lapang panjang.

Pemuda itu ialah Uwais al-Qarni. Ia ahli membaca Al-Quran dan sering terharu luar biasa saat membaca Al-Quran hingga air matanya menetes membasahi pipinya. Uwais al-Qarni sudah lama menjadi anak yatim. Ia tak punya sanak keluarga kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh.

Uwais Al-Qarni bekerja sebagai penggembala kambing untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Hasil kerjanya itu hanya cukup untuk menopang kehidupannya yang sangat sederhana. Bila memiliki kelebihan harta, ia gunakan untuk membantu orang-orang miskin di sekitarnya.

Meski bekerja sebagai penggembala kambing dan merawat ibunya yang lumpuh juga buta, Uwais Al-Qarni tak pernah melalaikan ibadahnya. Ia sering berpuasa di siang hari dan bermunajat saat malam hari.

Ketika Islam datang ke negeri Yaman dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak masyarakat Yaman untuk menyembah Allah Subhanahu wa ta’ala, Uwais al-Qarni tertarik dan segera memeluk agama Islam seerat mungkin. Karena sudah lama hati Uwais al-Qarni merindukan datangnya kebenaran.

Saat masyarakat Yaman memeluk Islam, banyak di antara mereka pergi ke Madinah untuk berkhidmat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui kehidupan mereka dengan cara kehidupan Islam.

Hal itu tentu membuat Uwais al-Qarni sangat sedih, ia merasa iri dengan keberuntungan yang diraih orang-orang tersebut. Mereka diberi anugerah untuk bertemu dengan kekasih Allah Subhanahu wa ta’ala secara langsung.

Hingga suatu saat, kecintaan Uwais al-Qarni kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi kerinduan yang sangat kuat. Namun apalah daya, ia tak punya bekal untuk pergi ke Madinah.

Dan pada saat perang Uhud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengalami cedera pada giginya. Gigi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Hingga berita ini terdengar oleh Uwais al-Qarni. la segera memukul giginya dengan batu hingga patah sebagai bukti kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekalipun ia belum pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Setelah berjalannya waktu, kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi.

"Kapankah aku dapat menziarahi Rasulullah dan memandang wajahnya dari dekat?" kata Uwais al-Qarni dalam hati. "Tapi, bagaimana dengan Ibu jika aku pergi mengunjungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah?"

Hatinya semakin gelisah ketika memikirkan itu. Ia tidak dapat menahan rindu namun tidak tega juga meninggalkan ibunya sendirian. Karena tidak tahan dengan beban dalam jiwanya, akhirnya Uwais al-Qarni berbicara kepada ibunya.

"Ibu," kata Uwais al-Qarni. "Aku sangat ingin bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mendengarkan sabda-sabdanya secara langsung. Tetapi, aku tidak akan tega meninggalkan engkau sendirian di sini."

Air mata ibu tiba-tiba menetes disertai senyuman yang indah. Nampaknya ia terharu dengan permohonan anaknya.

"Pergilah, wahai anakku!" kata Ibunya. "Temuilah Rasulullah di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang.”

Dengan penuh kegembiraan ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan. Ia juga menitipkan ibunya kepada salah seorang tetangannya agar menemani ibunya selama ia pergi.

Setelah melewati perjalanan kurang lebih 400 kilometer, tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Ia segera menuju ke rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengetuk pintu rumahnya.

Tetapi, waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bisa ia jumpai karena sedang berangkat berperang.

Betapa kecewa hati Uwais al-Qarni. Dari jauh ia datang ingin berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berperang.

"Apakah aku harus menunggu kedatangannya?" kata Uwais al-Qarni dalam hati. "Tapi, kapankah Rasulullah pulang? Sedangkan ibuku sudah menunggu kepulanganku?"

Karena ketaatan kepada ibunya, ia akhirnya memilih pulang walaupun tanpa bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sepulangnya dari perang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menanyakan kepada putrinya yakni Sayyidah Fatimah tentang kedatangan orang yang men carinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepada Sayyidah Fatimah bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit.

Mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Sayyidah Fatimah dan para sahabat tertegun. Belum selesai mereka tertegun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah di tengah-tengah telapak tangannya, di sana ada tanda putih."

"Suatu ketika," Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan sabdanya sambil memandang Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab, "Apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya. Dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi."

Pada masa setelah wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, yakni pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Umar bin Khattab teringat akan sabda Rasulullah tentang Uwais al-Qarni sang penghuni langit. la segera mengajak Ali bin Abi Thalib untuk mencari Uwais al-Qarni. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, mereka selalu menanyakan tentang Uwais al-Qarni apakah ia turut bersama mereka.

Di antara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh dua sahabat Rasulullah yang mulia itu. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais al-Qarni turut bersama salah satu rombongan kafilah menuju kota Madinah.

Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka.

"Apakah ada di antara kalian Uwais al-Qarni?" tanya Umar bin Khattab.

"Benar, sahabat Rasulullah." kata perwakilan rombongan itu. "Uwais al-Qarni bersama kami. Ia sedang menjaga unta-unta kami di perbatasan kota."

Mendengar jawaban itu, Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib bergegas pergi menemui Uwais al-Qarni. Sesampainya di kemah tempat Uwais al-Qarni berada, Khalifah Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib memberi salam.

"Assalamu'alaikum." Keduanya mengucap salam.

"Wa'alaikum salam." Jawab Uwais al-Qarni lalu menjabat tangan Umar bin Khattab.

Sewaktu berjabat tangan, Khalifah Umar bin Khattab segera membalikkan tangan Uwais al-Qarni untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangannya. Dan, ternyata di telapak tangannya memang ada tanda putih.

"Siapa namamu?" Tanya Umar bin Khattab.

“Abdullah." Jawab Uwais al-Qarni.

"Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah." Kata Ali bin Abi Thalib. “Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?"

"Nama saya Uwais al-Qarni." Jawab Uwais al-Qarni.

"Doakan kami berdua." kata Umar bin Khattab. "Aku Ummar bin Khattab dan ini saudaraku, Ali bin Abi Thalib."

Uwais al-Qarni terkejut mendengar dua nama itu disebutkan. Tidak menyangka ia didatangi oleh dua sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia. "Hambalah yang harus meminta doa, wahai Sahabat Rasulullah yang mulia." Kata Uwais al-Qarni.

"Tidak. Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar darimu." Kata Umar bin Khattab dengan tegas. Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat kedua tangannya setelah didesak kedua sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu. Ia berdoa dan membacakan istighfar.

"Engkau akan mendapatkan uang negara dari Baitul Mal untuk jaminan hidupmu." Kata Umar bin Khattab.

"Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi." Kata Uwais al-Qarni memohon.

Setelah kejadian itu, nama Uwais al-Qarni kembali hilang tak terdengar kabar beritanya. Ia menjalani kehidupan yang sufi di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala, tanpa gegap gempita ketenaran dan haus akan harta benda.

Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan