Dari Pemabuk Menjadi Sufi


Bisyir bin Harits adalah seorang pemuda yang dikenal sebagai pemabuk. la gemar sekali mabuk dengan mengkonsumsi minuman keras. Kenakalan pemuda ini sudah terkenal di kotanya. Hingga pada suatu hari Allah Subhanahu wata’ala memberikan hidayah kepadanya dan mengangkatnya dari jurang hitam ke tempat suci menjadi seorang sufi.

Bisyir bin Harits sering melakukan hal-hal yang dianggap aneh bagi orang awam. Salah satunya adalah Ketika ia mengunjungi rumah saudara perempuannya. Ia berjanji akan datang sebelum petang dan kedatangannya saat itu terlihat lain. Ia kelihatan linglung seperti orang yang kebingungan.

Belum lagi duduk di kursi atau berkata sepatah kata sekedar basa-basi, Bisyir langsung pergi meninggalkan ruang tamu dan berkata, “Aku mau naik ke loteng.” Katanya kepada saudara perempuannya.

Saudara perempuannya heran dengan sikap aneh Bisyir bin Harits. Namun ia membiarkan saja.

Ketika berjalan di tangga, Bisyir bin Harits berhenti. Ia terdiam di sana hingga adzan Subuh berkumandang. Seusai shalat Subuh, saudara perempuannya menemui Bisyir bin Harits.

"Sepanjang malam kau hanya berdiri di tangga itu. Ada apa?" Saudara perempuannya bertanya sungguh-sungguh.

Kemudian Bisyir menjawab, "Tiba-tiba saja aku berpikir bahwa di kota Baghdad ini banyak orang yang memiliki nama Bisyir. Kau tahu orang Yahudi, Kristen, Majusi juga bernama Bisyir. Aku sendiri muslim dan bernama Bisyir."

"Itu tidak mengherankan," jawab saudara perempuannya.

"Namun, aku seperti mendapat kebahagiaan yang besar. Kemudian aku bertanya pada diriku seindiri, apa yang telah aku lakukan sehingga mendapat kebahagiaan yang besar? Itulah yang membuatku berdiri di tangga sepanjang malam tadi."

"Kau aneh, saudaraku," ujar saudara perempuannya.

Ada juga kelakuan aneh lainnya yang pernah dilakukan Bisyir bin Harits. Hingga hampir separuh hidup Bisyir bin Harits dijalani dengan perilaku dan pemikiran yang aneh.

Pada suatu hari, Bisyir bin Harits kedatangan tamu dari Syiria. Tamu-tamu tersebut hendak mengajak Bisyir menunaikan ibadah haji ke Makkah.

Aku mau, "kata Bisyir bin Harits. Asal kalian tidak membawa bekal apapun!"

"Kami tak akan bawa bekal," jawab orang-orang Syiria itu.

"Kedua," kata Bisyir bin Harits. "Kalian tidak boleh meminta belas kasihan orang lain dalam perjalanan sampai ke Makkah dan pulan ke sini lagi."

"Kami sanggup," kata tamu-tamu itu.

"Ketiga," lanjut Bisyir bin Harits. “Jika ada orang yang melihat karena kasihan kepada kalian, kalian tidak usah menerima pemberian itu. Kalian harus bertawakkal kepada Allah."

"Kami akan belajar semakin tawakkal kepada Allah," jawab tamu tamu itu. "Bimbinglah kami wahai Bisyir bin Harits."

Kemudian mereka berangkat menuju Makkah sesuai dengan kesepakatan yang diajukan oleh Bisyir bin Harits kepada mereka. Jika salah satu ada yang melanggar, maka batal-lah perjalanan mereka.

Saat itu musim dingin datang, Bisyir bin Harits melepas semua bajunya. Padahal, semua orang mengenakan baju mereka, bahkan memaki baju rangkap untuk menghangatkan tubuh.

"Hai, Bisyir bin Harits," kata seorang teman. "Mengapa engkau melepas bajumu? Tidakkah engkau kedinginan?"

"Wahai, kawanku," kata Bisyir bin Harits. “Aku teringat pada orang-orang miskin, betapa menderitanya mereka saat ini, sementara aku tidak punya uang untuk membantu mereka, kecuali ikut merasakan penderitaannya."

Kawan-kawan Bisyir bin Harits tidak bisa menjawab apa-apa dengan alasan yang diajukan oleh Bisyir bin Harits. Mereka tertegun dengan jawaban yang terasa ngilu melebihi dinginnya cuaca yang sedang melanda.

Begitulah kisah-kisah aneh yang dilakukan oleh Bisyir bin Harits. Dahulu dia adalah pemuda nakal, tapi setelah bertaubat, kesufiannya amatlah agung dan namanya harum di seluruh penjuru Baghdad.

Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan