Pemahaman Orang (yang dianggap) Gila


Di suatu perkampungan terdapat seseorang yang terganggu jiwanya. Orang-orang sekitar banyak yang berusaha membantu agar kesadarannya kembali pulih. Setiap masuk waktu sholat, ia selalu diajak ke masjid untuk sholat berjamaah. Maksudnya adalah dengan cara tersebut, kesadaran orang itu tentang diri dan sosialnya akan kembali. Meski ajakan ke masjid seringkali tidak berhasil, orang-orang tak pernah bosan untuk membantunya.

Hingga pada suatu hari, orang-orang bermaksud mengajaknya untuk sholat Jumat. Saat sholat Jumat dimulai dan imam sudah ber-takbiratul ihram, tiba-tiba si fulan yang terganggu jiwa nya itu mengeluarkan suara seperti lenguhan lembu/sapi.

Jamaah sholat Jumat yang disekitarnya mengira jika isi fulan itu sedang kambuh gilanya. Seusai sholat, orang-orang menegurnya karena melakukan  perbuatan yang tercela saat beribadah.

“Apakah engkau tidak berpikir bahwa kita sedang menghadap Allah Subhanahu wa ta’ala?" ujar seseorang. "Engkau bersuara seperti seekor binatang saat sholat berjamaah. Sungguh kurang ajar! Janganlah engkau lakukan perbuatan yang tidak terpuji itu."

"Aku melakukan apa yang dikerjakan Imam," kata si fulan yang terganggu jiwanya itu. "Saat ia ingin membeli seekor lembu, maka aku pun bersuara seperti seekor lembu!"

Sontak orang-orang itu terkejut dengan jawaban si fulan yang dinilai kurang ajar. Si fulan gila yang sudah melakukan perbuatan tak terpuji ketika berjamaah, namun ketika dinasehati malah menuduh Imam tidak khusyu' dalam sholatnya.

"Kau telah memfitnah sang Imam!" kata seorang yang lain dengan nada marah. "Bagaimana kau tahu Imam tidak sholat dengan khusyu'?"

Mendengar keributan yang terjadi, sang Imam mendatangi mereka.

"Ada apa ini?" tanya sang Imam.

"Orang gila ini telah memfitnah engkau, wahai Imam kami," kata seseorang memberi penjelasan kepada Imam.

"Memfitnah? Apa yang dia katakan?" tanya sang Imam kepada para jamaah tersebut.

"Ia menuduh engkau tidak khusyu' dalam sholat," ujar seorang yang lain.

"Bagaimana dia mengetahuinya?" sang Imam bertanya lagi.

"Tadi saat sholat berjamaah, dia melenguh seperti seekor lembu. Waktu kami tanya, kenapa melenguh, dia menjawab bahwa ketika Imam ingin membeli seekor lembu maka ia melenguh seperti seekor lembu." Jawab seseorang yang lain menjelaskan.

"Kalian tak perlu menyalahkan dia," kata sang Imam. "Itu benar, ketika aku menyebut Allahu Akbar pada saat takbiratul ihram, saat itu aku sedang memikirkan pertanianku. Dan ketika sampai pada Alhamdulillah, aku berpikir bahwa aku akan membeli seekor lembu. Saat itulah aku mendengar suara lenguhan itu. Sesungguhnya aku malu pada dia."

Mendengar penjelasan sang Imam, orang-orang pada tertegun. Mereka tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Imam ketika memimpin shalat, namun si fulan yang selama ini dianggap terganggu jiwanya dapat mengerti apa yang dipikirkan sang Imam.

Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan