Keburukan dibalas Kebaikan

Saat seseorang mencapai derajat ketakwaan tinggi, maka jabatan, kekuasaan dan harta benda tak akan berarti lagi bagi dirinya. Karena hal paling utama bagi mereka adalah Al-Haq. Menemukan hakekat hidup yang sebenarnya adalah perilaku mereka. Hal-hal keduniawian dianggap semu belaka.

Seorang Raja dari Balkh, Iran yang terjun menjalani kehidupan tasawuf yakni Syekh Ibrahim bin Adham, beliau meninggalkan jabatan, kekuasaan, dan kekayaan hanya untuk menemukan Al-Haq yang selalu beliau rindukan.

Hingga suatu hari terjadi peristiwa yang membuat pilu. Dalam sebuah perjalanan melintasi padang pasir, Syekh Ibrahim bin Adham tiba-tiba dihampiri seorang prajurit yang berlaku kasar.

"Di mana kampung yang paling damai?" tanya prajurit itu kepada Syekh Ibrahim bin Adham dengan nada tinggi.

Syekh Ibrahim bin Adham menjawab dengan isyarat telunjuk tangannya yang mengarah ke area pemakaman.

"Hai, Kau menghina seorang prajurit?!" kata prajurit itu marah.

Tak puas dengan jawaban Syekh Ibrahim bin Adham, si prajurit pun mendaratkan pukulan tangannya ke kepala Syekh Ibrahim bin Adham. Beberapa kali ia memukuli Syekh Ibrahim bin Adham, hingga datanglah seseorang untuk melerai.

“Hai prajurit bodoh! Apa yang kau lakukan kepada Syekh Ibrahim bin Adham?” kata orang yang melerai tersebut.

"Apa?” kata prajurit itu kaget. "Apakah benar engkau Syekh Ibrahim bin Adham dari Khurasan?"

“Aku hanyalah orang yang hina dari Khurasan, wahai prajurit yang gagah." Jawab Syekh Ibrahim bin Adham.

"Maafkan kekhilafan saya, wahai Syekh Ibrahim bin Adham." Kata prajurit itu. "Maafkanlah saya."

"Wahai prajurit, ketika engkau memukulku," kata Syekh Ibrahim bin Adham. “Aku berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memasukanmu ke surga.”

"Mengapa kau lakukan itu, wahai Syekh?" tanya prajurit keheranan.

"Aku tahu," kata Syekh Ibrahim bin Adham. “Aku akan memperoleh pahala karena perbuatanmu yang memukulku. Namun, aku tidak ingin nasibku menjadi baik karena kerugianmu dan perhitungan amalmu menjadi buruk karena diriku."

Mendengar jawaban Syekh Ibrahim bin Adham, bergetar seluruh tubuh prajurit tersebut. Ia belum pernah menemui orang yang akhlaknya begitu baik sehingga mampu melelehkan hatinya yang keras. Cara Syekh Ibrahim bin Adham menasihati dan ketulusannya menerima perbuatan buruk membuat prajurit itu sadar untuk lebih serius dalam mencari kebenaran.

"Subhanallah!" kata prajurit itu. "Sungguh hina sekali diriku. Aku telah berbuat jahat kepadamu, namun engkau membalasnya dengan doa agar aku masuk surga.”

Sejak kejadian hari itu, prajurit tersebut mulai memperbaiki wataknya yang kasar. la menjadi prajurit yang berhati lembut dan kasih sayang. Apa yang diajarkan oleh Syekh Ibrahim bin Adham diamalkan olehnya sehingga ia menjadi pribadi yang dihormati.

Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan