Ulama yang Cerdik

Tersebutlah seorang penguasa Islam keturunan Mongol-Turki yakni Timur Lenk. Ia terkenal sebagai penguasa yang berperan dalam penyebaran agama Islam terutama di wilayah Asia Tengah dan sekitarnya. Setiap habis melakukan pendudukan suatu wilayah, Timur Lenk selalu mengundang para ulama di kawasan itu.

Kali ini Timur Lenk mengundang para ulama yang ada di wilayah Anatolia (sekarang Turki). Ia selesai menaklukan wilayah yang juga disebut sebagai Asia Minor itu.

Saat ulama-ulama yang diundang berdatangan dan berkumpul, Timur Lenk mengajukan satu pertanyaan yang sama kepada setiap ulama. Maksud dan tujuan Timur Lenk bertanya adalah agar ia menemukan ulama yang dapat dipercaya.

"Wahai para Ulama yang Mulia." kata Timur Lenk. “Aku ingin mendengar jawaban dari kalian semua satu per satu. Apakah aku adil atau lalim? Jika menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Namun jika menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal!"

Mendengar perkataan itu, para ulama yang hadir menjadi ketakutan. Ada beberapa ulama yang memberanikan diri memberi jawaban, namun malah membuat mereka dipenggal atau digantung karena sebenarnya pertanyaan tersebut tidak logis dan hanya jebakan saja.

"Wahai, Tuan," kata salah satu ulama mencoba menjawab pertanyaan Timur Lenk. "Engkau adalah penguasa yang adil." "Hai jagal, gantung ulama itu!" kata Timur Lenk.

Kemudian Timur Lenk beralih ke ulama lainnya dan menunjuk ulama tersebut untuk menjawab pertanyaannya. Ulama kedua yang melihat ulama pertama digantung akibat jawabannya itu mencoba memberi jawaban lain. 

"Wahai Tuan," kata ulama kedua. "Engkau adalah penguasa yang berbuat lalim." "Hai jagal, penggal ulama itu!" kata Timur Lenk. 

Hingga banyak yang sudah menjadi korban pertanyaan jebakan Timur Lenk, dan akhirnya, tiba giliran Nasruddin Hoja untuk menjawab pertanyaan itu. Saat itu adalah pertemuan pertama antara Nasruddin Hoja dengan penguasa baru Timur Lenk. 

"Kau, ulama yang lugu," kata Timur Lenk kepada Nasruddin Hoja. “Apakah aku adil ataukah lalim? Jika menurutmu adil, maka dengan keadilanku kau akan kugantung. Jika menurutmu lalim, maka dengan kelalimanku kau akan kupenggal!" 

Nasruddin Hoja sempat gugup dengan pertanyaan tersebut. Namun, ia mencoba tenang dan setelah menenangkan diri, Nasruddin Hoja memberi jawabannya.

"Wahai Tuan," kata Nasruddin Hoja dengan hati-hati. "Sungguh kami sebagai penduduk di sini yang merupakan orang-orang lalim dan abai. Sedangkan engkau adalah pedang keadilan yang dikirimkan oleh Allah yang Maha Adil kepada kami."

Mendengar jawaban yang lain daripada yang lain itu membuat Timur Lenk berpikir sejenak. "Engkau ulama yang sesungguhnya," kata Timur Lenk. "Engkau memiliki kejernihan dan kecerdikan jawaban." 

Setelah puas dengan jawaban Nasruddin Hoja, maka para ulama lainnya bisa terbebas dari perbuatan Timur Lenk. Dan setelah kejadian itu, Nasruddin Hoja dikenal Timur Lenk sebagai ulama yang cerdik. Hingga pada momen-momen berikutnya Timur Lenk selalu ingin menguji kecerdikan Nasruddin Hoja.

Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan