Langkanya Kebenaran


Suatu hari di majelis ilmu, Nasruddin Hoja sedang mengajar murid-muridnya. Ia duduk di atas mimbar dan berceramah. Di depannya sudah banyak muridnya yang siap mendengarkan penjelasan Sang Guru mengenai suatu ilmu dengan penuh khidmat. 

"Kebenaran," kata Nasruddin Hoja mengawali ceramahnya. “Merupakan sesuatu yang sangat berharga. Ia berharga secara spiritual maupun secara material." 

Pernyataan Nasruddin Hoja itu membuat para muridnya bertanya-tanya. Salah satu diantara mereka kemudian bertanya.

"Wahai Tuan Guru, mengapa kita harus membayar untuk sebuah kebenaran?" tanya salah satu murid Nasruddin Hoja.

"Kenapa kita harus membayar? Karena kadangkala kebenaran itu memang harganya mahal," jawab Nasruddin Hoja. 

"Mengapa kebenaran begitu mahal harganya?” tanya murid yang lainnya. 

"Jika kalian memperhatikan," jawab Nasruddin Hoja. "Harga sesuatu itu dipengaruhi juga oleh kelangkaannya. Semakin langka sesuatu itu, semakin mahal harganya. Seperti contoh, barang yang dibuat ribuan tahun lalu, saat ini mungkin sangat sedikit keberadaannya. Barang tersebut menjadi barang antik dan harganya pun mahal.” 

Dengan permisalan seperti itu, murid-murid dari Nasruddin Hoja bisa paham bahwa saat ini “kebenaran” harganya sangat mahal. Sebab dari kelangkaan kebenaran, akibatnya adalah mahalnya suatu kebenaran. Kelangkaan tersebut karena banyak orang yang enggan untuk mencari kebenaran. Kebanyakan hanya diam dan berpangku tangan serta merasa bahwa informasi yang mereka terima sudah benar semua. Mereka tak mau mengkaji lebih lanjut apakah informasi tersebut mengandung kebenaran atau tidak, namun sudah menyebarkannya ke lainnya.

Sang Pejalan

Jalan Suluk merupakan web/blog yang mengulas berbagai hal tentang ajaran agama Islam seperti tasawuf, sholawat, hikmah, suluk, manakib ulama dll.

Lebih baru Lebih lama

Artikel Pilihan